Tanya Jawab Lainnya..
- Ketika Istri tidak taat dan selingkuh
- Berbakti kepada orang tua
- Manajemen Rumah Tangga
- Orang tua yang berbeda agama
- Ibu Kandung dan Calon Istri
- Ketika seorang istri dalam kondisi terberat..
- Zakat, Infaq dan sedekah
- Berbakti kepada ibu dan kewajiban kepada istri
- Orang tua dan rumah tangga
- Suami dan Ibu Kandung..?
- Maryam Selibat...?
- Melupakan Seseorang
Orang tua yang berbeda agama
Assalammualaikum Wr Wb
Saya memiliki orang tua yang berbeda agama. Ayah beragama islam sedang ibu beragama Kristen. Sedangkan saya dan kedua kakak saya beragama islam.
Di dalam KTP agama ibu saya adalah islam. Apakah ibu sudah pernah mengucapkan sahadat??? Saya sendiri tidak tau. Setiap ayah/kami mengajak ibu untuk masuk agama islam, ibu mengatakan bahwa saat ini ibu belum bisa. Namun setiap bulan Ramadhan ibu ikut menjalankan puasa sampai selesai. Ibu pun menunaikan kewajiban zakat dan korban atas keinginannya sendiri. Ibu saya wanita karir, sehingga selalu menyisihkan harta untuk berkorban dan zakat. Bahkan, saat ini ibu rajin menjalankan puasa senin kamis. Meskipun ibu belum mau mengikuti ajaran islam, namun ibu selalu mengingatkan/menasehati supaya kami menjalankan perintah agama islam.
Pertanyaan saya :
1) Bagaimana pandangan islam atas sikap ibu saya? Apakah amal ibadahnya diterima?
2) Apakah doa seorang anak kepada orangtuanya tidak akan diterima karena ibu non muslim?
3) Apakah hal ini mempengaruhi dapat menghambat kesuksesan anak-anaknya?
4) Apakah tidak akan pernah ada surga untuk ibu saya?
5) Bagaimana cara membuka hati ibu saya supaya masuk agama islam?
Wa’alaikum salam wa Rahmatullah wa Barakatuh,
Semoga Allah memberikan kebaikan pada sahabat dan keluarga.
Pertama ;
Jika melihat pada sejarah, walaupun tidak sama, tetapi sikap ibu sahabat hampir mirip dengan paman Rasulullah SAW. Abu Tholib (paman) Rasulullah SAW senantiasa membela Beliau dalam menjalankan dakwah. Dan dalam kisah, Rasulullah sangat ingin sekali pamannya masuk islam. Tetapi, hingga meninggalnya, paman Beliau tidak masuk islam. Sekali lagi, walaupun tidak sama, ada kemiripan dalam konteks hubungan muslim dan non-muslim. Dalam Al Quran
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Qs : 60:8)
Melalui ayat diatas, Islam melarang kita berbuat tidak baik kepada non-muslim yang tidak memusuhi dan memerangi kita, bahkan dalam ayat tersebut secara tidak langsung Allah memerintahkan kita berbuat adil kepada mereka. Bahkan dalam ayat lain :
“Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qs : 31 : 15)
Selama orang tua tidak memerintahkan untuk kembali kepada kemusryikan, maka berbuat baiklah kepada mereka.
Apakah amal ibadahnya diterima …?
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS 5 : 73)
Balasan yang terbesar dari Ibadah yang dilakukan seseorang adalah surga, sedangkan dalam ayat diatas, mereka yang musyrik (menyekutukan) kepada Allah, maka tempat kembalinya adalah neraka. Dengan demikian, amal ibadahnya tidak diterima. Persoalan tauhid dalam islam merupakan hal yang sangat pokok dan penting. Jika diumpamakan, maka ia seperti seorang supir yang bekerja pada anda, tetapi setiap hari dia mengantarkan tetangga anda. Betul, yang dia lakukan adalah sebagai seorang supir. Lalu pada akhir bulan, supir tersebut meminta gaji dari anda.. kurang lebih seperti itu perumpamaannya.
Kedua ;
Allah mengabulkan setiap hamba-Nya yang berdo’a. Dalam kisah, orang tua Nabi Ibrahim AS adalah orang yang kafir, tetapi Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim AS.
Ketiga ;
Kesuksesan tidak sepenuhnya tergantung dari orang tua. Dan tidak ada hubungannya dengan kekafiran dan kesuksesan dalam konteks keduniawian. Banyak sekali, mereka yang berasal dari pasangan non-muslim yang sangat sukses dalam konteks keduniawian. Bahkan dalam Al Quran, kita bisa melihat, banyak kisah (mereka yang kafir), tetapi meraih kesuksesan dunia, seperti Fir’aun, Karun, Kaum Tsamud, dll.
Ke-Empat ;
Jika Ibu sahabat sampai akhir hayatnya tidak masuk Islam, maka sebagaimana ayat diatas, Allah mengharamkan surga bagi mereka (musyrikin).
Kelima ;
Melakukan komunikasi dengan cara yang baik, berdiskusi dengan keluarga terutama dengan ayah karena suami adalah kepada keluarga dan sebetulnya itu adalah juga tanggung jawab suami untuk lebih gigih dalam mengajak Ibu sahabat untuk lebih mengenal islam sehingga tertanamlah keimanan pada islam. Jika masih sulit, berdiskusilah dengan Ustad yang cukup bijak dalam menghadapi non-muslim, atau ustad yang memang pakarnya mengajak no-muslim masuk islam, dan yang terakhir do’akan dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Menurut mayoritas ulama, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, mendo’akan non-muslim agar mendapat hidayah diperbolehkan.
Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan pada sahabat. Wallahu’alam.
Salam,
dRisalah
Video dari kami
| Timbangan Lihat selengkapnya |
Amal Manusia Lihat selengkapnya |
Ucapan dan tindakan Lihat selengkapnya |
| Perjalanan Manusia Lihat selengkapnya |
Kemah di padang pasir |
Raja dan Ulama Lihat selengkapnya |


