"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"
(Bukhari, muslim, ahmad, abu daud, ibnu majah, tirmidzi)

Saya seorang wanita 29 tahun, menikah pada tahun 2009. Saya dan suami tinggal di rumah orang tua saya.Saya sudah berpacaran dengan suami sejak tahun 2006, dari sejak perkenalan sampai dengan 2 bulan setelah menikah suami menganggur.Pada saat kami berencana untuk menikah saya telah menerima dengan kondisi suami yang menganggur, dan kami berkomitmen akan menunjukan kepada keluarga saya dan suami bahwa kami dapat menjalani pernikahan dengan baik.Selama suami menganggur semua biaya hidup saya yang menanggung karena saya bekerja sebagai karyawan swasta, kadang2 biaya makan dibantu keluarga suami atau keluarga saya.

Selama menganggur, saya selalu mensupport suami untuk menumbuhkan percaya dirinya dan selalu mensupport untuk melamar bekerja (seperti membuat lamaran dan membantu mengirimkan lamaran).

Setelah 2 bulan menikah suami dapat pekerjaan, namun setelah 4 bulan bekerja suami mengundurkan diri karena tidak cocok dengan bagian SDMnya.

Pada saat menganggur saya masih support suami untuk melamar kembali, dan akhirnya diterima disebuah hotel bintang 4, namun suami menolaknya padahal sudah tanda tangan  kontrak.. kemudian pada awal tahun 2010 suami mendapatkan pekerjaan sebagai GM di sebuah hotel melati.. bertepatan dengan awal tahun 2010 saya pun mengandung anak yang diidam-idamkan karena sempat saya keguguran pada saat usia pernikahan baru 2 bulan.

Setiap gajian seluruh gaji diserahkan kepada saya.. suami hanya memegang uang insentif & uang service.setiap gaji yg suami berikan saya simpan, digunakan apabila ada permintaan suami untuk membeli barang. untuk sehari-hari saya yg membiayai karena saya punya penghasilan dari pekerjaan saya sbg karyawan swasta. tapi ada seperbagian dari gaji suami jg yg saya gunakan untuk membeli kebutuhan suami seperti rokok, baju dan kopi.

Pada bln september suami mendapat uang hibah dari orang tuanya dan dibayarkan DP rumah dan merenovasi rumah. rumah tsb kredit dengan cicilan selama 15 tahun.persyaratan pengajuan kredit menggunakan nama saya karena data saya lebih lengkap dibandingkan dengan data suami. pada saat akad kredit terjadi kesalahan oleh notaris bahwa yg dicantumkan di AJB adalah nama saya, trus saya meminta notaris untuk merubah selain ada nama saya tercantum juga nama suami.. pada bulan yg sama juga saya dianugerahi anak laki-laki..

Pada awal tahun 2011 suami menganggur kembali karena tidak diperpanjang kontrak kerjanya.

cicilan rumah bln oktober s.d Januari dibayar dari gaji suami, selama mencicil rumah tsb biaya hidup saya dan anak saya ditanggung oleh saya sendiri krn gaji suami habis untuk membayar cicilan rumah, sedangkan suami banyak dibantu oleh mertua saya.

Cicilan rumah bulan februari & Maret saya bayar dengan menjual mas kawin saya.. dan biaya hidup saya dgn anak (by dokter, susu, makan dll) masih ditanggung oleh saya sendiri.kadang2 mertua bantu beberapa dus susu&baju anak.karena suami masih menganggur.Tabungan selama suami bekerja saya gunakan untuk membeli barang-barang seperti AC, water heater, alat olah raga suami, by operasi suami dan membuat usaha, sehingga tabungan habis...

Pada saat ini saya masih tinggal di rumah orang tua dengan alasan krn anak tidak ada yang mengasuh sedangkan klo di rumah orang tua, orang tua sanggup untuk mengasuh.

Hal ini pernah dibicarakan dengan suami, dan suami meng iyakan keputusan saya, karena apabila saya beserta anak tinggal di rumah baru, saya belum sanggup untuk membiayai pengasuh dan suami belum bisa menafkahi saya dan anak saya.

Selama tinggal di rumah orang tua saya, suami jarang mengasuh anak kami, alasannya karena tidak bisa. Tapi kadang2 suami menggendong bayi kami, tapi cuma beberapa menit, padahal saya sangat mengharapkan suami bisa jadi partner saya dalam mengasuh anak kami.

Selama menganggur suami menjadi sensitif dan mudah terpancing emosinya.. contohnya apabila berkendaraan di jalan sering marah.. sehingga hal tsb membuat saya juga terpancing emosi untuk bete tidak mau ngobrol.. saya sangat capek dengan pekerjaan saya dan mengurus anak yang baru bayi.

Saya sangat kecewa saat meminta suami untuk melamar mencari pekerjaan baru, suami menjawab malas untuk bekerja kembali karena merasa malas harus adaptasi baru lagi dan mengikuti aturan2 yg ada.

Namun keputusan itu, dipertanyakan kembali oleh suami dan keluarganya..

"Kenapa saya tidak menurut kepada suami? tidak mengurus suami? dan orang tuanya menanyakan kenapa AJB atas nama Saya dan Suami sedangkan uang DP pembelian rumah tsb adalah hibah ortu suami kepada suami bukan kepada saya?dan keluarga menanyakan kenapa semua barang atas nama saya seperti : usaha Loket Listrik atas nama saya, motor atas nama saya? dan suami mengungkapkan kekesalannya kepada keluarga saya selama hidup 2 tahun ini di depan orang tuanya..Mertua juga menanyakan kemana uang gaji suami selama 1 tahun ini?

Sebenarnya selama ini suami tidak mengerti apa-apa tentang segala hal, makanya saya sering lebih vokal dibandingkan dengan suami, contoh usaha loket listrik, karena saya bekerja di perusahaan penyelenggara loket listrik makanya saya menggunakan channel dan nama baik saya untuk bisa buka loket listrik dengan nama saya.

Pembelian motor atas nama saya karena saat itu yg bekerja saya dan suami menganggur, sehingga saya berasumsi klo pengajuannya atas nama saya dengan slip gaji saya maka pengajuannya akan lebih mudah dan di acc.

Sejak hari itu saya memendam kekecewaan, rasa cinta saya hilang kepada suami, saya datang ke rumah suami karena kewajiban bukan didasari rasa cinta lagi.. saya sakit hati karena pengorbanan saya selama ini dianggap hilang karena kesalahan saya yg beberapa bulan tidak mengikuti kemauan suami.

Saya merasa sudah memberikan kemampuan saya yang maksimal baik materi, tenaga maupun tenaga saya kepada suami, tapi dengan mudahnya dilupakan.

apa yang harus saya lakukan? apabila mengikuti emosi, rasanya saya ingin bercerai, karena saya merasa selama saya hidup berumah tangga, semua kebutuhan saya dipenuhi oleh gaji saya sendiri.. sampai punya anakpun semua kebutuhannya saya yang penuhi.. jadi mau berstatus menikah ataupun tidak rasanya tidak ada bedanya..

Masalah yang paling berat suami sudah tdk mau mengunjungi saya maupun anak di rumah orang tua saya, karena suami tersinggung dengan kata2 ortu saya. setiap minggu saya dan anak yg dtg berkunjung ke rumah suami.kalau saya dan anak pulang dari rumah suami saya hanya diantar sampai gang, tdk pernah diantarkan sampai rumah.

 

Wa'alaikum salam,

Semoga Allah memberikan kesabaran pada sahabat dan memberikan kemudahan dari ujian yang sedang dihadapi. Dalam islam, pernikahan adalah ibadah, hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW melalui hadits ;


"..padahal aku sendiri shalat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka siapa yang saja yang membenci sunnahku, berarti bukan dari golonganku." (HR : Bukhari, Muslim, An-Nasai)


Dan secara umum, apabila seorang hamba melakukan ibadah maka ibadah tersebut akan membuat dirinya menjadi tentram, tenang dan berbagai macam kebaikan
lainnya. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, pernikahan dengan niat ibadah yang seharusnya melahirkan sakinah (tentram), mawaddah (kasih) dan warohmah (sayang).  Hal ini sebagaimana firman Allah :


(QS : 30 : 21) “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.


Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guna mencapai keberkahan dalam kehidupan rumah tangga, silakan baca di link ini

Agar keberkahan tercapai beberapa hal yang disebutkan dalam tulisan itu tentunya, harus disadari oleh pasangan suami dan istri.

Masalah yang terjadi biasanya timbul apabila salah satu dari hal diatas tidak dilaksanakan oleh salah satu pasangan, baik oleh suami dan istri. Mencermati kisah yang disampaikan oleh sahabat dan sedikit penjelasan dari artikel diatas, maka ; Dalam konteks tujuan pernikahan (adalah untuk beribadah), maka segala aspek kehidupan dalam rumah tangga harus juga disandarkan pada masalah ibadah. Ibadah dalam konteks ini, tidak hanya sekedar persoalan yang dikaitkan dengan ritual, tetapi bentuk pengamalan dan makna-makna yang terkandung dalam ibadah ritual harus di-implementasikan dalam kehidupan keseharian. Hal yang berkaitan dengan persoalan ini adalah :

a.       Suami harus terus berusaha, karena kedudukannya sebagai pemimpin keluarga. Jika memang belum mendapatkan pekerjaan, maka selama ia tidak berhenti berusaha, Insya Allah pasti Allah mencukupi rezekinya. Tentunya, faktor keimanan sangat berpengaruh dalam hal ini. Guna menambah keimanan seseorang, secara umum meningkatkan ibadah, menghadiri majelis ta’lim, memahami dan mendalami hal yang berhubungan dengan agama sangat diperlukan. Jika kegiatan-kegiatan ini hilang atau berkurang kadarnya, maka tanggung jawab-nya kepada diri sendiripun akan berkurang, demikian pula kepada orang lain (termasuk istrinya).

b.      Istri memang harus senantiasa ta’at kepada suami selama perintah suami tidak bertentangan dengan perintah agama. Istri yang bekerja tidak dilarang dalam islam, selama suami meridhoinya, dan bisa mengatur waktu untuk kehidupan rumah tangganya.

c.       Setan akan selalu masuk kedalam hubungan suami-istri apabila hati mereka lalai dari berdzikir kepada Allah. Sehingga ketika setan masuk, maka setan akan selalu mempengaruhi hati manusia untuk tidak bersyukur, mencari kesalahan orang lain, emosi, dan perangai buruk lainnya, termasuk memutuskan hubungan silatuharim dengan orang tua. Dengan kesabaran yang baik, dan berusaha untuk meminta perlindungan kepada Allah maka Insya Allah hal ini akan sangat membantu, membentengi diri dari bisikan setan.

d.      Salah satu tipu daya yang sangat disukai oleh setan, adalah menceraikan pasangan suami istri. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang bermakna apabila mereka bercerai, maka telah terputuslah setengah keselamatan dari agama mereka. Maka setan akan mencari segala cara, dari arah manapun agar menceraikan suami dari istrinya, demikian pula sebaliknya

e.      Kekuatan iman akan menimbulkan kekuatan empati, secara singkat, empati adalah kemampuan untuk meraba dan merasakan apa yang orang lain lakukan. Dengan empati, maka akan tumbuh rasa kebersamaan dalam menahan ‘badai yang mencoba menghantam’ bahtera rumah tangga. Hilangnya empati dalam hubungan rumah tangga, salah satu dampak yang akan terjadi adalah seperti kisah yang sahabat ceritakan.

f.        Cara komunikasi yang baik perlu diperbaiki. Kurangnya komitmen dari kedua belah pihak dalam memberikan kualitas waktu yang terbaik untuk berkomunikasi merupakan salah satu penyebab terjadinya kesalah pahaman dalam kehidupan rumah tangga. Komunikasi sering dianggap hal yang sepele, tetapi kebanyakan persoalan dalam rumah tangga terjadi karena hal komunikasi.

g.       Menjalankan kewajiban secara syar’i dalam kehidupan rumah tangga sebagai seorang istri maupun suami adalah satu kebaikan, dan ketika mereka berdua berusaha menjalankan setiap kebaikan, maka Allah-lah sebagai penggenggam setiap hati, dan pemilik cinta yang abadi, akan menumbuhkan rasa cinta pada pasangan suami-istri yang tentunya, tentunya cinta yang didasari karena Allah, adalah cinta yang lebih langgeng dan lebih baik.

h.      Dan yang terakhir, renungkanlah kembali dasar dari pernikahan dan tujuan dari sebuah pernikahan dengan suami anda melalui komunikasi yang baik, melalui empati, dan melalui hati berniat untuk saling memperbaiki dan saling memafkan. Manusia tidak diberi kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, apalagi untuk memahami orang lain, tidak terkecuali mereka adalah suami istri, orang tua dan anak. Dalam Islam, Allah memberikan solusi dengan memberikan aturan syariah yang harus dita’ati oleh pria maupun wanita. Tujuannya, agar setiap pria akan mendapatkan istri yang berakhlaq seperti istri-istri Nabi, demikian pula dengan wanita, ia dijamin oleh Allah akan mendapatkan pria yang berakhlaq seperti Rasulullah SAW, hanya saja keterbatasan untuk mencapai akhlaq itu tergantung dari masing-masing upaya manusia dalam mencontoh teladan yang telah Allah berikan.

 

Kurang lebih demikian yang dapat kami sampaikan, mohon maaf apabila ada kalimat yang tidak berkenan.  Setiap kebaikan dalam tulisan ini tentu datangnya dari Allah, sedangkan kekhilafan datangnya dari kami, mohon di maafkan. Wallahu’alam.

 

 

 

 

Video Jalan Inspirasi..