"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"
(Bukhari, muslim, ahmad, abu daud, ibnu majah, tirmidzi)

AWW,
Mohon pencerahannya seputar problem rumah tangga keluarga kami.
Dalam berumah tangga, bagaimana sebenarnya kedudukan Ibu kandung dan Istri. Sebagai suami, siapakah yang harus diutamakan? Apakah bakti seorang anak kepada ibunya atau kewajiban sebagai suami kepada istrinya?

Wa’alaikum salam, wa rahmatullah wa barakatuh,

 

 

Semoga Allah memberikan kebaikan pada sahabat. Aamin. Kedudukan orang tua dalam islam sangat di utamakan, hal ini sebagaimana dinyatakan melalui salah satu ayat ;

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al Israa : 23)

Dan dalam beberapa hadits Rasulullah saw bersabda :

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu."  (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad).

"Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Iya". Maka Beliau berkata: "Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti) ". (bukhari, muslim, abu daud, tirmidzi, ahmad, nasa’i)

Seorang laki-laki berdiri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dan meminta izin kepadanya untuk pergi jihad. Maka beliau bersabda: "Apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?" Dia berkata; "Ya, ibuku" Beliau bersabda: "Pergi dan berbuat baiklah kepada ibumu." Dia berkata; maka lelaki itu pun pergi di antara orang-orang. (Ahmad)

Berbakti pada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi, sebagaimana ayat dan hadits di atas. Demikian pula, jika kedua orang tua seseorang itu masih dalam keadaan musryik. Hal ini sebagaimana dinyatakan pula dalam hadis ;

Asma' binti Abu Bakar dia berkata, "Saat masih dalam perjanjian dengan Quraisy, ibuku yang masih musyrik datang kepadaku, maka aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku tanyakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah datang sedangkan dia membutuhkanku, apakah aku harus menemuinya?" Beliau bersabda: "Ya, temuilah ibumu."

Singkatnya, dalam islam, berbuat baik kepada orang tua adalah hal yang wajib, dan durhaka kepadanya adalah hal yang dapat menimbulkan dosa besar selama orang tua tersebut tidak memerintahkan untuk berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah, atau memerintahkan untuk menjauh dari ketakwaan. Hal ini dinyatakan melalui ayat;

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS : 29 : 8)

Demikian pula kedudukan seorang istri dalam islam, seorang suami diperintahkan agar mereka tidak menyulitkan istri-istri mereka sesuai dengan batas-batas yang di ajarkan dalam islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan melalui ayat ;

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka” (QS : 65 : 6)

Sedangkan dalam hadits,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikuti suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji". Maka Beliau bersabda: "Tunaikanlah hajji bersama istrimu". (Bukhari, Muslim, Ahmad)

Sama halnya dengan orang tua, kewajiban seorang suami berbuat baik pada istrinya selama istri tersebut taat pada suami dalam ketakwaan kepada Allah. Jika istri tidak taat pada suami (dalam konteks takwa), maka seorang suami boleh menawarkan perpisahan dengan istrinya.

Hal ini dinyatakan melalui hadits ;

Aisyah radliallahu 'anha istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi Aisyah ketika Allah menyuruhnya untuk memilih (cerai atau tetap bersama) para istrinya, beliau memulai denganku. Beliau bersabda: "Saya hendak memberitahukan kepadamu hal yang sangat penting, karena itu, janganlah kamu terburu-buru menjawabnya sebelum kamu bermusyawarah dengan kedua orang tuamu." Dia (Aisyah) berkata; Beliau tahu benar, kedua orang tuaku tidak akan mengizinkanku bercerai dengan beliau. Dia (Aisyah) melanjutkan; Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia beserta perhiasannya, marilah kuberikan kepadamu suatu pemberian, kemudian kuceraikan kamu dengan cara yang baik, dan jika kalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi yang berbuat kebajikan di antara kamu'. (Al Ahzab: 28). Aisyah berkata; Apa untuk yang seperti ini saya harus minta musyawarah kepada kedua orang tuaku?, sudah tentu saya menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu majah, Ahmad)

Bentuk ketaatan seorang istri pada suaminya digambarkan melalui hadits ;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunnah) sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya." (Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Darimi)

Secara singkat, dari ayat-ayat dan hadits di atas, bisa kita cermati bahwa kedudukan Ibu kandung dan istri memiliki kedudukan yang sama-sama istimewa dalam islam dan harus diutamakan.

Tetapi, jika kita cermati kembali, yang harus diutamakan adalah mereka yang lebih bertakwa dan lebih dekat kepada Allah walaupun dalam perlakuannya berbeda, antara seorang anak kepada ibunya dan kepada istrinya.

Jika orang tua memerintahkan anaknya untuk menjauhi perintah agama, maka seseorang tidak perlu taat kepada mereka, tetapi tetap kita harus berbuat baik kepada mereka dalam konteks hubungan sesama manusia.

Demikian pula dengan istri, ketika istri menjauh dari ketakwaan, maka kedudukannya tidak perlu diutamakan, bahkan jika perlu ceraikanlah, karena pernikahan pada intinya adalah perintah takwa.

Persoalan akan seringkali muncul ketika, orang tua kandung atau mertua dan anak (suami maupun istri) tidak mengambil aturan agama sebagai aturan yang utama dalam mengatur kehidupan mereka. Sehingga mereka akan menuntut satu dengan yang lainnya sesuai dengan keinginan masing-masing. Ketika keinginan ini tidak terpenuhi (baik dari sisi orang tua dan anak) maka biasaya hal ini akan menimbulkan berbagai persoalan.

Islam adalah solusi terbaik, karena islam mengatur dimana posisi dan kedudukan orang tua dan apa yang harus mereka lakukan kepada anak-anak mereka (termasuk istri atau suami). Demikian pula sebaliknya, kedudukan anak (baik suami / istri) dalam kedudukannya dan kewajibannya diatur dalam islam. Ketika semua elemen dalam keluarga berusaha untuk meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah melalui contoh Rasul-Nya, maka Insya Allah, persoalan yang timbul akan selalu ada solusinya.

Saran kami, marilah kita ber-interospeksi, apakah semua elemen keluarga sudah berusaha sebaik-baiknya untuk bertakwa kepada Allah, dan apakah masing-masing dari elemen keluarga itu sudah mengetahui apa yang menjadi kewajiban mereka…? Jika ini sedang dilaksanakan, maka bersabarlah, karena segala sesuatu berproses, dan ketika kita bersabar dalam proses itu, Insya Allah hal ini merupakan kebaikan di sisi Allah… tetapi jika masih belum dilaksanakan, mulailah untuk bersegera memperbaiki keadaan ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menambah pemahaman setiap elemen keluarga (baik orang tua dan anak) pada aturan Islam. Mengenai caranya kami rasa sahabat lebih mengetahui bagaimana cara terbaik agar nasihat-nasihat agama ini bisa masuk pada setiap elemen keluarga...

Segala kebaikan pasti dari Allah, segala kekurangan datangnya dari kami, mohon dimaklumi. Wallahu’alam.

 

 

 

AWW,
Mohon pencerahannya seputar problem rumah tangga keluarga kami.
Dalam berumah tangga, bagaimana sebenarnya kedudukan Ibu kandung dan Istri. Sebagai suami, siapakah yang harus diutamakan? Apakah bakti seorang anak kepada ibunya atau kewajiban sebagai suami kepada istrinya?

Wa’alaikum salam, wa rahmatullah wa barakatuh,

Semoga Allah memberikan kebaikan pada sahabat. Aamin. Kedudukan orang tua dalam islam sangat di utamakan, hal ini sebagaimana dinyatakan melalui salah satu ayat ;

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al Israa : 23)

Dan dalam beberapa hadits Rasulullah saw bersabda :

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad).

"Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Iya". Maka Beliau berkata: "Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti) ". (bukhari, muslim, abu daud, tirmidzi, ahmad, nasa’i)

Seorang laki-laki berdiri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dan meminta izin kepadanya untuk pergi jihad. Maka beliau bersabda: "Apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?" Dia berkata; "Ya, ibuku" Beliau bersabda: "Pergi dan berbuat baiklah kepada ibumu." Dia berkata; maka lelaki itu pun pergi di antara orang-orang. (Ahmad)

Berbakti pada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi, sebagaimana ayat dan hadits di atas. Demikian pula, jika kedua orang tua seseorang itu masih dalam keadaan musryik. Hal ini sebagaimana dinyatakan pula dalam hadis ;

Asma' binti Abu Bakar dia berkata, "Saat masih dalam perjanjian dengan Quraisy, ibuku yang masih musyrik datang kepadaku, maka aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku tanyakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah datang sedangkan dia membutuhkanku, apakah aku harus menemuinya?" Beliau bersabda: "Ya, temuilah ibumu."

Singkatnya, dalam islam, berbuat baik kepada orang tua adalah hal yang wajib, dan durhaka kepadanya adalah hal yang dapat menimbulkan dosa besar selama orang tua tersebut tidak memerintahkan untuk berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah, atau memerintahkan untuk menjauh dari ketakwaan. Hal ini dinyatakan melalui ayat;

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS : 29 : 8)

Demikian pula kedudukan seorang istri dalam islam, seorang suami diperintahkan agar mereka tidak menyulitkan istri-istri mereka sesuai dengan batas-batas yang di ajarkan dalam islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan melalui ayat ;

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka” (QS : 65 : 6)

Sedangkan dalam hadits,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikuti suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji". Maka Beliau bersabda: "Tunaikanlah hajji bersama istrimu". (Bukhari, Muslim, Ahmad)

Sama halnya dengan orang tua, kewajiban seorang suami berbuat baik pada istrinya selama istri tersebut taat pada suami dalam ketakwaan kepada Allah. Jika istri tidak taat pada suami (dalam konteks takwa), maka seorang suami boleh menawarkan perpisahan dengan istrinya.

Hal ini dinyatakan melalui hadits ;

Aisyah radliallahu 'anha istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi Aisyah ketika Allah menyuruhnya untuk memilih (cerai atau tetap bersama) para istrinya, beliau memulai denganku. Beliau bersabda: "Saya hendak memberitahukan kepadamu hal yang sangat penting, karena itu, janganlah kamu terburu-buru menjawabnya sebelum kamu bermusyawarah dengan kedua orang tuamu." Dia (Aisyah) berkata; Beliau tahu benar, kedua orang tuaku tidak akan mengizinkanku bercerai dengan beliau. Dia (Aisyah) melanjutkan; Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia beserta perhiasannya, marilah kuberikan kepadamu suatu pemberian, kemudian kuceraikan kamu dengan cara yang baik, dan jika kalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi yang berbuat kebajikan di antara kamu'. (Al Ahzab: 28). Aisyah berkata; Apa untuk yang seperti ini saya harus minta musyawarah kepada kedua orang tuaku?, sudah tentu saya menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu majah, Ahmad)

Bentuk ketaatan seorang istri pada suaminya digambarkan melalui hadits ;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunnah) sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya." (Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Darimi)

Secara singkat, dari ayat-ayat dan hadits di atas, bisa kita cermati bahwa kedudukan Ibu kandung dan istri memiliki kedudukan yang sama-sama istimewa dalam islam dan harus diutamakan.

Tetapi, jika kita cermati kembali, yang harus diutamakan adalah mereka yang lebih bertakwa dan lebih dekat kepada Allah walaupun dalam perlakuannya berbeda, antara seorang anak kepada ibunya dan kepada istrinya.

Jika orang tua memerintahkan anaknya untuk menjauhi perintah agama, maka seseorang tidak perlu taat kepada mereka, tetapi tetap kita harus berbuat baik kepada mereka dalam konteks hubungan sesama manusia.

Demikian pula dengan istri, ketika istri menjauh dari ketakwaan, maka kedudukannya tidak perlu diutamakan, bahkan jika perlu ceraikanlah, karena pernikahan pada intinya adalah perintah takwa.

Persoalan akan seringkali muncul ketika, orang tua kandung atau mertua dan anak (suami maupun istri) tidak mengambil aturan agama sebagai aturan yang utama dalam mengatur kehidupan mereka. Sehingga mereka akan menuntut satu dengan yang lainnya sesuai dengan keinginan masing-masing. Ketika keinginan ini tidak terpenuhi (baik dari sisi orang tua dan anak) maka biasaya hal ini akan menimbulkan berbagai persoalan.

Islam adalah solusi terbaik, karena islam mengatur dimana posisi dan kedudukan orang tua dan apa yang harus mereka lakukan kepada anak-anak mereka (termasuk istri atau suami). Demikian pula sebaliknya, kedudukan anak (baik suami / istri) dalam kedudukannya dan kewajibannya diatur dalam islam. Ketika semua elemen dalam keluarga berusaha untuk meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah melalui contoh Rasul-Nya, maka Insya Allah, persoalan yang timbul akan selalu ada solusinya.

Saran kami, marilah kita ber-interospeksi, apakah semua elemen keluarga sudah berusaha sebaik-baiknya untuk bertakwa kepada Allah, dan apakah masing-masing dari elemen keluarga itu sudah mengetahui apa yang menjadi kewajiban mereka…? Jika ini sedang dilaksanakan, maka bersa

AWW,
Mohon pencerahannya seputar problem rumah tangga keluarga kami.
Dalam berumah tangga, bagaimana sebenarnya kedudukan Ibu kandung dan Istri. Sebagai suami, siapakah yang harus diutamakan? Apakah bakti seorang anak kepada ibunya atau kewajiban sebagai suami kepada istrinya?

Wa’alaikum salam, wa rahmatullah wa barakatuh,

Semoga Allah memberikan kebaikan pada sahabat. Aamin. Kedudukan orang tua dalam islam sangat di utamakan, hal ini sebagaimana dinyatakan melalui salah satu ayat ;

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al Israa : 23)

Dan dalam beberapa hadits Rasulullah saw bersabda :

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu."  (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad).

"Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Iya". Maka Beliau berkata: "Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti) ". (bukhari, muslim, abu daud, tirmidzi, ahmad, nasa’i)

Seorang laki-laki berdiri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dan meminta izin kepadanya untuk pergi jihad. Maka beliau bersabda: "Apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?" Dia berkata; "Ya, ibuku" Beliau bersabda: "Pergi dan berbuat baiklah kepada ibumu." Dia berkata; maka lelaki itu pun pergi di antara orang-orang. (Ahmad)

Berbakti pada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi, sebagaimana ayat dan hadits di atas. Demikian pula, jika kedua orang tua seseorang itu masih dalam keadaan musryik. Hal ini sebagaimana dinyatakan pula dalam hadis ;

Asma' binti Abu Bakar dia berkata, "Saat masih dalam perjanjian dengan Quraisy, ibuku yang masih musyrik datang kepadaku, maka aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku tanyakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah datang sedangkan dia membutuhkanku, apakah aku harus menemuinya?" Beliau bersabda: "Ya, temuilah ibumu."

Singkatnya, dalam islam, berbuat baik kepada orang tua adalah hal yang wajib, dan durhaka kepadanya adalah hal yang dapat menimbulkan dosa besar selama orang tua tersebut tidak memerintahkan untuk berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah, atau memerintahkan untuk menjauh dari ketakwaan. Hal ini dinyatakan melalui ayat;

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS : 29 : 8)

Demikian pula kedudukan seorang istri dalam islam, seorang suami diperintahkan agar mereka tidak menyulitkan istri-istri mereka sesuai dengan batas-batas yang di ajarkan dalam islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan melalui ayat ;

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka” (QS : 65 : 6)

Sedangkan dalam hadits,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". Lalu ada seorang laki-laki yang bangkit seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikuti suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan hajji". Maka Beliau bersabda: "Tunaikanlah hajji bersama istrimu". (Bukhari, Muslim, Ahmad)

Sama halnya dengan orang tua, kewajiban seorang suami berbuat baik pada istrinya selama istri tersebut taat pada suami dalam ketakwaan kepada Allah. Jika istri tidak taat pada suami (dalam konteks takwa), maka seorang suami boleh menawarkan perpisahan dengan istrinya.

Hal ini dinyatakan melalui hadits ;

Aisyah radliallahu 'anha istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi Aisyah ketika Allah menyuruhnya untuk memilih (cerai atau tetap bersama) para istrinya, beliau memulai denganku. Beliau bersabda: "Saya hendak memberitahukan kepadamu hal yang sangat penting, karena itu, janganlah kamu terburu-buru menjawabnya sebelum kamu bermusyawarah dengan kedua orang tuamu." Dia (Aisyah) berkata; Beliau tahu benar, kedua orang tuaku tidak akan mengizinkanku bercerai dengan beliau. Dia (Aisyah) melanjutkan; Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia beserta perhiasannya, marilah kuberikan kepadamu suatu pemberian, kemudian kuceraikan kamu dengan cara yang baik, dan jika kalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi yang berbuat kebajikan di antara kamu'. (Al Ahzab: 28). Aisyah berkata; Apa untuk yang seperti ini saya harus minta musyawarah kepada kedua orang tuaku?, sudah tentu saya menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu majah, Ahmad)

Bentuk ketaatan seorang istri pada suaminya digambarkan melalui hadits ;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunnah) sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya." (Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Darimi)

Secara singkat, dari ayat-ayat dan hadits di atas, bisa kita cermati bahwa kedudukan Ibu kandung dan istri memiliki kedudukan yang sama-sama istimewa dalam islam dan harus diutamakan.

Tetapi, jika kita cermati kembali, yang harus diutamakan adalah mereka yang lebih bertakwa dan lebih dekat kepada Allah walaupun dalam perlakuannya berbeda, antara seorang anak kepada ibunya dan kepada istrinya.

Jika orang tua memerintahkan anaknya untuk menjauhi perintah agama, maka seseorang tidak perlu taat kepada mereka, tetapi tetap kita harus berbuat baik kepada mereka dalam konteks hubungan sesama manusia.

Demikian pula dengan istri, ketika istri menjauh dari ketakwaan, maka kedudukannya tidak perlu diutamakan, bahkan jika perlu ceraikanlah, karena pernikahan pada intinya adalah perintah takwa.

Persoalan akan seringkali muncul ketika, orang tua kandung atau mertua dan anak (suami maupun istri) tidak mengambil aturan agama sebagai aturan yang utama dalam mengatur kehidupan mereka. Sehingga mereka akan menuntut satu dengan yang lainnya sesuai dengan keinginan masing-masing. Ketika keinginan ini tidak terpenuhi (baik dari sisi orang tua dan anak) maka biasaya hal ini akan menimbulkan berbagai persoalan.

Islam adalah solusi terbaik, karena islam mengatur dimana posisi dan kedudukan orang tua dan apa yang harus mereka lakukan kepada anak-anak mereka (termasuk istri atau suami). Demikian pula sebaliknya, kedudukan anak (baik suami / istri) dalam kedudukannya dan kewajibannya diatur dalam islam. Ketika semua elemen dalam keluarga berusaha untuk meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah melalui contoh Rasul-Nya, maka Insya Allah, persoalan yang timbul akan selalu ada solusinya.

Saran kami, marilah kita ber-interospeksi, apakah semua elemen keluarga sudah berusaha sebaik-baiknya untuk bertakwa kepada Allah, dan apakah masing-masing dari elemen keluarga itu sudah mengetahui apa yang menjadi kewajiban mereka…? Jika ini sedang dilaksanakan, maka bersabarlah, karena segala sesuatu berproses, dan ketika kita bersabar dalam proses itu, Insya Allah hal ini merupakan kebaikan di sisi Allah… tetapi jika masih belum dilaksanakan, mulailah untuk bersegera memperbaiki keadaan ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menambah pemahaman setiap elemen keluarga (baik orang tua dan anak) pada aturan Islam. Mengenai caranya kami rasa sahabat lebih mengetahui bagaimana cara terbaik agar nasihat-nasihat agama ini bisa masuk pada setiap elemen keluarga...

Segala kebaikan pasti dari Allah, segala kekurangan datangnya dari kami, mohon dimaklumi. Wallahu’alam.

 

 

 

barlah, karena segala sesuatu berproses, dan ketika kita bersabar dalam proses itu, Insya Allah hal ini merupakan kebaikan di sisi Allah… tetapi jika masih belum dilaksanakan, mulailah untuk bersegera memperbaiki keadaan ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menambah pemahaman setiap elemen keluarga (baik orang tua dan anak) pada aturan Islam. Mengenai caranya kami rasa sahabat lebih mengetahui bagaimana cara terbaik agar nasihat-nasihat agama ini bisa masuk pada setiap elemen keluarga...

Segala kebaikan pasti dari Allah, segala kekurangan datangnya dari kami, mohon dimaklumi. Wallahu’alam.

 

 

 

Video Jalan Inspirasi..