"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS : 14:7).

Komentar

Suka Situs Ini...?

www.radiorisalah.com

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini :128
mod_vvisit_counterKemarin :74
mod_vvisit_counterMinggu ini :776
mod_vvisit_counterMinggu Lalu :1036
mod_vvisit_counterBulan ini :3316
mod_vvisit_counterBulan Lalu0
mod_vvisit_counterSemua :547770

Sedang Online: 2
IP Anda : 54.167.177.111
,
Today: Oct 31, 2014

Artikel dibaca

Content View Hits : 909759



Informasi & Registrasi : SMS : 0813-21204471 - 081-802003336 - Pin BB : 21A16470

User Rating: / 0
PoorBest 

Boleh Jadi Kalian Suka, Padahal itu Jelek bagi Kalian

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

”Kutiba ‘alaikumul qitaalu wa huwa kurhul lakum wa ‘asaa an takrahuu syai-aw wa huwa khairul lakum wa ‘asaa an tuhibbuu syai-aw wa huwa syarrul lakum wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun” (Diwajibkan kepada kalian berperang walaupun itu sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui) (Al Baqarah, 2:216)

Ayat ini sangat penting sekali perlu kita pahami dengan benar tatkala kita meniti kehidupan ini, karena ayatnya mengandung suatu prinsip hidup yang Allah ajarkan kepada kita. Jika saja kita bisa memegang teguh prinsip ini, maka insya Allah kita akan mampu menjalani hidup ini tanpa harus mengalami stress.

Bukan hal yang mustahil suatu saat seseorang menangis dan meratapi peristiwa yang menimpa diri kita, padahal menurut Allah pada saat yang sama seharusnya yang bersangkutan tertawa dan bersyukur, sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan seseorang tertawa, padahal menurut Allah seharusnya yang bersangkutan menangis dan bertaubat kepada Allah. Ini terjadi karena kita sangat tidak mampu membaca hikmah di balik dari setiap peristiwa yang sedang direncanakan oleh Allah untuk kita.

Ayat ini diawali sebuah perintah: “Kutiba ‘alaikumul qitaalu” (Diwajibkan kepada kalian berperang). Di samping berbagai kewajiban yang ditetapkan dalam Islam, Allah SWT secara khusus mewajibkan kepada orang yang beriman untuk berperang. Di dalam ayat ini tidak dijelaskan kapan dan untuk apa kita diperintahkan berperang,  yang ditekankan dalam ayat ini bahwa kewajiban yang Allah tetapkan untuk berperang di antaranya untuk membela hak-hak dan atau membela keyakinan kita.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan: “Wa huwa kurhul lakum” (Walaupun itu sesuatu yang kalian benci). Allah SWT menyatakan bahwa perang itu sendiri adalah perkara yang tidak disukai manusia. Pertanyaannya, kenapa Allah mewajibkan sesuatu yang tidak disukai? Jawabannya dinyatakan dalam lanjutan ayat: “Wa ‘asaa an takrahuu syai-aw wa huwa khairul lakum” (Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian).

Karena salah satu risiko perang adalah mati, maka Allah yang menciptakan manusia yang karenanya Mahatahu tentang kecenderungan manusia, menyatakan jika perintah untuk berperang itu pasti adalah sesuatu yang tidak disukai. Jika Allah SWT tidak menyatakan hal ini, maka tentu akan melahirkan kesan bahwa Allah memerintahkan sesuatu yang sangat berat untuk manusia, kendati sangat ringan bagi Allah. Maka dengan tegas di awal ayat Allah menyatakan sesungguhnya itu berat bagi kalian karena kalian tidak akan suka. Hal ini sekaligus Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa sesuatu yang tidak kita sukai/benci itu tidak selalu benar menurut ukuran perasaan dan akal kita.

Sebaliknya, dalam lanjutan ayat dinyatakan: “Wa ‘asaa an tuhibbu syai-aw wa huwa syarrul lakum” (Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian). Di sini Allah meyakinkan kepada kita bahwa, ”hendaknya setiap sesuatu itu tidak diukur baik atau buruknya dengan ukuran nafsu dan akal kita, tetapi baik atau buruk menurut Allah. Jika Allah memerintahkan sesuatu itu sudah pasti baik, dan jika Allah melarang sesuatu itu pasti tidak baik”. Di mana letak baiknya silakan kita mencari hikmahnya.

Karena Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, maka di ujung ayatnya dinyatakan: “Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun” (Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui).

Berkaitan dengan makna yang terkandung dalam ayat 216 surah Al Baqarah ini sepatutnya kita mengambil pelajaran yang sangat berharga yang Allah berikan kepada kita pada surah Al Kahfi ayat 60-82. Paling tidak ada “dua” kisah besar yang bisa kita ambil hikmahnya, pertama, di ayat 60-64 surah Al Kahfi dikisahkan Nabi Musa As dengan muridnya, yang bernama Yusia bin Nuh. Allah SWT berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya, “Senantiasalah (aku berjalan) hingga aku sampai pada tempat pertemuan dua laut atau aku akan berjalan beberapa lama. Maka tatkala keduanya sampai pada pertemuan dua laut itu, mereka berdua lupa akan ikannya, maka ikan itu mengambil jalannya menuju ke laut. Tatkala keduanya telah melampauinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawakanlah makanan kita sungguh kita merasa letih dalam perjalanan kita ini. Berkata (muridnya itu), “Tidaklah engkau tahu tatkala kita berlindung di sebuah batu, lalu aku lupa akan ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk mengingatnya melainkan syetan, dan ia telah mengambil jalan di laut dengan mengherankan. Musa bertanya, “Itulah yang kita cari” Lalu keduanya kembali mengikuti jejaknya semula” (Al Kahfi,60-64).

Kedua, singkat kisahnya, setelah itu Nabi Musa As pun bertemu dengan hamba Allah yang shaleh yang oleh sebagian ahli tafsir dikenal dengan Nabi Khidir (Al Kahfi, 18:65-82), di mana Allah memerintahkan kepada Nabi Musa As untuk belajar kepada Nabi Khidir perihal ilmu yang tidak bisa diketahui oleh Nabi Musa dan tidak bisa diketahui oleh siapa pun, kecuali yang diberi petunjuk. Karena berkaitan dengan perkara-perkara yang ghaib, maka Nabi Musa As itu tidak bisa memahami, sehingga selalu bertanya dan menyalahi perjanjiannya dengan hamba yang shaleh, Nabi Khidir. Dalam perjanjiannya, Nabi Musa boleh mengikuti Nabi Khidir dengan syarat tidak boleh bertanya sebelum dijelaskan oleh Nabi Khidir.

Dari awal ayat 67 surah Al Kahfi, Nabi Khidir sudah menjelaskan, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat sabar terhadap sesuatu yang engkau belum mengalami?”

Akhirnya Nabi Musa pun berjanji, bahwa dia akan bersabar dan tidak akan bertanya kepada Nabi Khidir sebelam dijelaskan. Maka mereka pun berjalan, sampai tiba di suatu tempat, Nabi Khidir melihat ada perahu-perahu milik rakyat miskin yang langsung oleh beliau dilubangi. Nabi Musa As lupa akan perjanjian, beliau pun bertanya kepada Nabi Khidir, mengapa engkau membocori perahu-perahu ini? Nabi Khidir pun mengingatkan Nabi Musa As: “Bukankah aku sudah berkata kepadamu bahwa engkau tidak sanggup bersabar bersamaku” (QS. Al Kahfi, 18:72)

Keduanya berjalan lagi, lalu ketemu dengan seorang anak kecil yang langsung dibunuh oleh Nabi Khidir. Nabi Musa pun tidak sabar untuk kembali bertanya, Nabi Khidir kembali mengingatkan Nabi Musa AS bahwa ia telah melanggar perjanjian untuk kedua kalinya. Setelah itu keduanya berjalan lagi memasuki sebuah desa dan melihat sebuah tiang bangunan yang akan ambruk dan langsung diperbaiki oleh Nabi Khidir, padahal penduduk desa itu sama sekali tidak menghargai kehadiran keduanya di desa tersebut. Nabi Musa As pun dengan keheranannya kembali bertanya mengapa Nabi Khidir melakukan itu semua. Maka karena ini sudah ketiga kalinya, sesuai dengan perjanjian berpisahlah keduanya.

Sebelum berpisah Nabi Khidir mengatakan, aku akan jelaskan satu demi satu dari perkara-perkara yang membuat kamu tidak sabar dan menyalahi perjanjian. Kisah pertama, pada saat perahu dibocori, maka yang “terlihat” oleh Nabi Musa As adalah “kejelekkan”, karena perahu milik orang miskin. Khidir berkata: “Ini lebih baik, karena jika tidak bocor maka perahu akan dirampas oleh penguasa yang zalim”. Kedua, kisah tentang anak yang disembelih, karena anak tersebut bila ia tumbuh dewasa kelak akan membawa kedua orangtuanya ke lembah neraka, maka dibunuhlah anak tersebut. Ketiga, perihal tiang bangunan yang akan ambruk lalu diperbaiki karena pemiliknya adalah seorang hamba yang shaleh yang menyimpan harta miliknya di bawah tiang tersebut dan Allah berkenan melindungi harta yang bersangkutan agar kelak bisa diwarisi oleh putra-putrinya.

Pada penghujung ayat 82 surah Al Kahfi dinyatakan oleh Nabi Khidir lewat firman-Nya: “Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan yang engkau tidak sanggup sabar atasnya”.

Untuk mengakhiri bahasan ini, ada baiknya kita merenungkan sebuah kisah yang dikutip, Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam Kitab Tafsirnya. Dikisahkan, seorang warga Negara di Cina, memiliki rumah yang besar dan ladang yang luas serta memiliki banyak kuda peliharaan yang di antaranya ada seekor kuda andalan yang sangat disayanginya. Suatu kali kuda ini hilang, maka masyarakat pun berdatangan kepadanya, seraya berkata, “Kami ikut bersedih dan mudah-mudahan anda bersabar dengan musibah ini”. Orang tersebut tersenyum dan berkata: “Mengapa aku harus bersedih? Karena jangan-jangan hilangnya kuda itu adalah yang terbaik bagiku”.

Suatu ketika dia mendapatkan kuda yang sama bagusnya, maka masyarakat pun berdatangan lagi sambil mengatakan: “Kami ikut berbahagia dan selamat atasmu sudah mendapakan kuda pengganti”. Orang tersebut berkata: “Siapa bilang aku selamat? Jangan-jangan keberadaan kuda ini justru akan membawa musibah bagiku”. Ternyata suatu hari anaknya jatuh saat menaiki kuda barunya, yang mengakibatkan patah kakinya, artinya kuda tersebut ternyata membawa kemudharatan.

Padahal, sebelumnya orang lain berdatangan mengucapkan selamat. Setelah mendengar berita kaki anak tersebut patah oleh sebab naik kuda tersebut, berdatanganlah mereka sambil mengatakan: “Kami ikut bela sungkawa atas patahnya kaki anakmu”. Orang tersebut mengatakan: “Siapa bilang patahnya kaki anakku itu tidak baik? Jangan-jangan patahnya kaki anakku ini sesuatu yang baik”. Diriwayatkan suatu saat terjadi perang di mana Pemerintah menetapkan semua pemuda harus ikut wajib militer dan ikut berperang, ternyata satu-satunya yang dibebaskan dari wajib militer dan tidak ikut berperang hanya si pemuda tersebut karena kakinya patah. Maka orang lain pun berdatangan lagi, sambil mengucapkan: “Selamat anakmu tidak ikut berperang”. Orang tersebut berkata: “Siapa bilang anakku selamat, belum tentu bahkan mungkin yang lebih baik baginya adalah ikut berperang”.

Dari sudut syariat Islam, ikut berperang itu bisa lebih baik dari “dua” sisi: Pertama, peluang untuk mengambil dan atau mempertahankan hak-haknya yang akan dirampas orang lain. Kedua, bila tulus niatnya berperang karena Allah lalu ia gugur sebagai syahid, maka itu akan menjadi jalan baginya menuju syurga.

Oleh karenanya, janganlah kita mengukur sesuatu dengan kemampuan hawa nafsu kita, boleh jadi di balik terjadinya peristiwa yang menimpa diri kita ada hikmah yang bisa kita petik. Kalau prinsip ini bisa kita pegang rasanya aman hidup ini, syaratnya selama kita telah berupaya berjuang untuk hidup di jalan-Nya, pasti Allah akan memilihkan yang terbaik, walaupun sejuta akal manusia mengatakan tidak baik, kita akan katakan ini yang terbaik karena kita berjalan di jalan-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Lainnya..

Hidup Adalah Ujian

Sekelompok Malaikat ditugaskan mengangkat Arsy, ternyata mereka tak mampu melakukannya, sampai Allah mengajarkan kalimat : ALLOHU AKBAR..!!! Dan langit pun terangkat oleh para Malaikat…!!! Maka serulah ALLOHU AKBAR, agar kita kuat menanggung beban ke...

Selengkapnya

Memandang Poligami

Pada zaman sebelum diturunkannya Al Qur’an, kaum wanita boleh dikatakan, hampir tidak memiliki kemuliaan, rujuklah pada sejarah kaum wanita terdahulu yang banyak ditulis dalam berbagai risalah. Salah satu penyebabnya, boleh jadi karena adanya pemikir...

Selengkapnya

Bahaya Kemunkaran Ilmu

  Bahaya Kemunkaran Ilmu Oleh : Tardjono Abu Muas   "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selal...

Selengkapnya

Melupakan seseorang...

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat FB, tentang, “Bagaimana cara melupakan seseorang agar dirinya menjadi tenang”. Ada dua hal yang ingin saya garis bawahi ; Yang pertama, sebagaimana ayat ;"(yaitu) orang-orang yang beriman ...

Selengkapnya

Tentang Shalat

Risalah Wanita (Eps 12) Jika pada suatu saat kita di undang oleh seseorang untuk datang ke rumahnya, dan dalam undangan itu kita hanya mengenal nama orang yang mengundang kita. Karena ketidaktahuan kita akan banyak hal yang berkaitan dengan und...

Selengkapnya

Tentang Surat

Risalah Wanita (Eps 2) Surat adalah salah satu bentuk komunikasi antar manusia yang lebih khusus untuk hubungan yang khusus dan memilik arti tersendiri bagi si penulis dan penerima. Seperti surat keputusan, surat berharga, surat permohonan, surat la...

Selengkapnya

Hak Cipta adalah Milik Allah..

“Manusia tidaklah menciptakan sebagaimana sifat Allah yang menciptakan segala sesuatu, dari tidak ada menjadi ada” Pada hakikatnya, manusia tidaklah menciptakan sebagaimana sifat Allah yang menciptakan segala sesuatu, dari tidak ada menjadi ada. Man...

Selengkapnya

Indahnya Rumah Laba-Laba

Indahnya Rumah Laba-Laba Oleh : Tardjono Abu M. Muas Dalam kehidupan keseharian kita, tentu kita pernah melihat dan atau mengenal salah satu makhluk Allah dari sekian banyak makhluk ciptaan-Nya yang hidup di sekeliling kita. Salah satu makhlu...

Selengkapnya

Resah - Gelisah, Adakah Obatnya?

Resah-Gelisah, Adakah Obatnya? Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Syahdan pada suatu saat, Sayidina Ali ra, ditanyalah oleh para sahabat dengan sebuah pertanyaan, “Makhluk apakah yang paling kuat di dunia ini?” Beliau seketika pula menjawab, makhluk...

Selengkapnya

Haji, Jihadnya kaum wanita

Risalah Wanita (EPS 18) Setiap orang tentunya akan senang jika ia diperlakukan dengan perlakuan yang khusus, atau spesial. Biasanya, satu bentuk perlakuan khusus sangat berkaitan erat dengan jabatan, atau kedudukan seseorang, semakin penting ke...

Selengkapnya

Tentang Musibah

Mensikapi bencana yang terjadi di Indonesia, melalui sudut pandang Al Quran Kata musibah dalam Al Quran berarti, sesuatu yang menimpa manusia, baik berupa hal yang positif maupun yang negatif. Tetapi, dalam perkembangannya, kata musibah itu lebih be...

Selengkapnya

Mengingat Kehidupan Akhirat

Mengingat Kehidupan Akhirat Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA   “Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih” (Al Israa’, 17:10)   Untuk mengingat kehidupan akhirat, kini...

Selengkapnya

Wanita pilihan Allah

Risalah Wanita (EPS 25) Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq...

Selengkapnya

Berlatih Ikhlash...

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat di di FB, “Apakah ada do'a untuk tidak berpikiran negatif kepada orang yang telah di bantu....dan agar hati tidak gusar.....?”. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan pa...

Selengkapnya

Dia begitu Muda… Dia berani Berbicara…

Sebut saja namanya Wandy. Dia masih begitu muda, usianya mungkin belum menginjak 30 tahun. Tapi tulisan, membuat saya termenung sejenak. Saya tidak tahu apakah dia mengadopsi dari beberapa sumber… atau tulisan ini memang murni karena pemikirannya. Sa...

Selengkapnya

Menyembunyikan Kebenaran

Menyembunyikan Kebenaran Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA “Innal ladziina yaktumuuna maa anzalallaahu minal kitaabi wa yasytaruuna bihii tsamanan qaliilan ulaa-ika maa ya’kuluuna fii buthuunihim illaan naara wa laa yukallimuhumullaahu yaumal qiy...

Selengkapnya

Antara Jiwa dan Jasad

Kejadian ketika Allah mengambil kesaksian dan sumpah dari setiap jiwa memberikan informasi kepada kita, bahwa pada hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual. Kemudian, setelah kesaksian setiap jiwa di alam ruh / jiwa itu, maka Allah melalui mekani...

Selengkapnya

Kepanikan Zionis Israel

Kedunguan, kebebalan dan kekebalan Zionis-Israel terhadap kutukan masyarakat dunia atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina dan Libanon, rupanya kini bisa dibuat “paranoid” (ketakutan) oleh Randa Ghazi seorang gadis belia yang menulis novel berju...

Selengkapnya

Kenangan terindah..

Indahnya sebuah kenangan membuat kita mencoba untuk mengulangi lagi apa yang pernah kita lakukan....tersenyum, bergembira, bersedih dan berabgai hal lainnya ketika mengingat apa yang pernah kita rasakan... Ber-empati kepada sesama, melakukan sholat m...

Selengkapnya

Yes, I am… wanna to be happy, always…!

“Kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan.” Perilaku kita akan memperlihatkan, bahwa kita bahagia. Jika dalam pandangan kita tidak ada bedanya, hidup dan mati, penjara dan istana, miskin dan ka...

Selengkapnya

Hati, Niat & Istiqomah..

Tulisan ini adalah jawaban untuk share dengan salah satu sahabat yang mengajukan pertanyaan di forum majelis ta’lim Al Ashr di facebook.. Dalam pertanyaan ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita cermati,.. Yang pertama adalah hubungan a...

Selengkapnya

Tentang Ilmu

Risalah Wanita (Eps 8) Ilmu adalah informasi yang masuk dalam pikiran kita, lalu informasi tersebut dikirimkan ke hati kita. Keimanan sebagaimana yang telah di bahas, bersemayan dalam hati, dan salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi...

Selengkapnya

Valentine's Day=Virus Aqidah??

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam...

Selengkapnya

Memilah & Memilih Pemimpin

Memilah & Memilih Pemimpin Keterikatan dan keterkaitan seorang mu’min dalam hidup bermasyarakat dan bernegara khususnya dalam “memilah & memilih pemimpin”, layaklah kita hayati dan renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al Hakim, Nab...

Selengkapnya

More in: Inspirasi

-
+
9

Video Jalan Inspirasi..