"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.  Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan". (QS :13:3) .

Komentar

Suka Situs Ini...?

www.radiorisalah.com

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini :107
mod_vvisit_counterKemarin :129
mod_vvisit_counterMinggu ini :867
mod_vvisit_counterMinggu Lalu :1143
mod_vvisit_counterBulan ini :2371
mod_vvisit_counterBulan Lalu0
mod_vvisit_counterSemua :546825

Sedang Online: 2
IP Anda : 54.81.76.147
,
Today: Oct 24, 2014

Artikel dibaca

Content View Hits : 907966



Informasi & Registrasi : SMS : 0813-21204471 - 081-802003336 - Pin BB : 21A16470

User Rating: / 0
PoorBest 

Boleh Jadi Kalian Suka, Padahal itu Jelek bagi Kalian

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

”Kutiba ‘alaikumul qitaalu wa huwa kurhul lakum wa ‘asaa an takrahuu syai-aw wa huwa khairul lakum wa ‘asaa an tuhibbuu syai-aw wa huwa syarrul lakum wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun” (Diwajibkan kepada kalian berperang walaupun itu sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui) (Al Baqarah, 2:216)

Ayat ini sangat penting sekali perlu kita pahami dengan benar tatkala kita meniti kehidupan ini, karena ayatnya mengandung suatu prinsip hidup yang Allah ajarkan kepada kita. Jika saja kita bisa memegang teguh prinsip ini, maka insya Allah kita akan mampu menjalani hidup ini tanpa harus mengalami stress.

Bukan hal yang mustahil suatu saat seseorang menangis dan meratapi peristiwa yang menimpa diri kita, padahal menurut Allah pada saat yang sama seharusnya yang bersangkutan tertawa dan bersyukur, sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan seseorang tertawa, padahal menurut Allah seharusnya yang bersangkutan menangis dan bertaubat kepada Allah. Ini terjadi karena kita sangat tidak mampu membaca hikmah di balik dari setiap peristiwa yang sedang direncanakan oleh Allah untuk kita.

Ayat ini diawali sebuah perintah: “Kutiba ‘alaikumul qitaalu” (Diwajibkan kepada kalian berperang). Di samping berbagai kewajiban yang ditetapkan dalam Islam, Allah SWT secara khusus mewajibkan kepada orang yang beriman untuk berperang. Di dalam ayat ini tidak dijelaskan kapan dan untuk apa kita diperintahkan berperang,  yang ditekankan dalam ayat ini bahwa kewajiban yang Allah tetapkan untuk berperang di antaranya untuk membela hak-hak dan atau membela keyakinan kita.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan: “Wa huwa kurhul lakum” (Walaupun itu sesuatu yang kalian benci). Allah SWT menyatakan bahwa perang itu sendiri adalah perkara yang tidak disukai manusia. Pertanyaannya, kenapa Allah mewajibkan sesuatu yang tidak disukai? Jawabannya dinyatakan dalam lanjutan ayat: “Wa ‘asaa an takrahuu syai-aw wa huwa khairul lakum” (Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian).

Karena salah satu risiko perang adalah mati, maka Allah yang menciptakan manusia yang karenanya Mahatahu tentang kecenderungan manusia, menyatakan jika perintah untuk berperang itu pasti adalah sesuatu yang tidak disukai. Jika Allah SWT tidak menyatakan hal ini, maka tentu akan melahirkan kesan bahwa Allah memerintahkan sesuatu yang sangat berat untuk manusia, kendati sangat ringan bagi Allah. Maka dengan tegas di awal ayat Allah menyatakan sesungguhnya itu berat bagi kalian karena kalian tidak akan suka. Hal ini sekaligus Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa sesuatu yang tidak kita sukai/benci itu tidak selalu benar menurut ukuran perasaan dan akal kita.

Sebaliknya, dalam lanjutan ayat dinyatakan: “Wa ‘asaa an tuhibbu syai-aw wa huwa syarrul lakum” (Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian). Di sini Allah meyakinkan kepada kita bahwa, ”hendaknya setiap sesuatu itu tidak diukur baik atau buruknya dengan ukuran nafsu dan akal kita, tetapi baik atau buruk menurut Allah. Jika Allah memerintahkan sesuatu itu sudah pasti baik, dan jika Allah melarang sesuatu itu pasti tidak baik”. Di mana letak baiknya silakan kita mencari hikmahnya.

Karena Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, maka di ujung ayatnya dinyatakan: “Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun” (Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui).

Berkaitan dengan makna yang terkandung dalam ayat 216 surah Al Baqarah ini sepatutnya kita mengambil pelajaran yang sangat berharga yang Allah berikan kepada kita pada surah Al Kahfi ayat 60-82. Paling tidak ada “dua” kisah besar yang bisa kita ambil hikmahnya, pertama, di ayat 60-64 surah Al Kahfi dikisahkan Nabi Musa As dengan muridnya, yang bernama Yusia bin Nuh. Allah SWT berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya, “Senantiasalah (aku berjalan) hingga aku sampai pada tempat pertemuan dua laut atau aku akan berjalan beberapa lama. Maka tatkala keduanya sampai pada pertemuan dua laut itu, mereka berdua lupa akan ikannya, maka ikan itu mengambil jalannya menuju ke laut. Tatkala keduanya telah melampauinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawakanlah makanan kita sungguh kita merasa letih dalam perjalanan kita ini. Berkata (muridnya itu), “Tidaklah engkau tahu tatkala kita berlindung di sebuah batu, lalu aku lupa akan ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk mengingatnya melainkan syetan, dan ia telah mengambil jalan di laut dengan mengherankan. Musa bertanya, “Itulah yang kita cari” Lalu keduanya kembali mengikuti jejaknya semula” (Al Kahfi,60-64).

Kedua, singkat kisahnya, setelah itu Nabi Musa As pun bertemu dengan hamba Allah yang shaleh yang oleh sebagian ahli tafsir dikenal dengan Nabi Khidir (Al Kahfi, 18:65-82), di mana Allah memerintahkan kepada Nabi Musa As untuk belajar kepada Nabi Khidir perihal ilmu yang tidak bisa diketahui oleh Nabi Musa dan tidak bisa diketahui oleh siapa pun, kecuali yang diberi petunjuk. Karena berkaitan dengan perkara-perkara yang ghaib, maka Nabi Musa As itu tidak bisa memahami, sehingga selalu bertanya dan menyalahi perjanjiannya dengan hamba yang shaleh, Nabi Khidir. Dalam perjanjiannya, Nabi Musa boleh mengikuti Nabi Khidir dengan syarat tidak boleh bertanya sebelum dijelaskan oleh Nabi Khidir.

Dari awal ayat 67 surah Al Kahfi, Nabi Khidir sudah menjelaskan, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat sabar terhadap sesuatu yang engkau belum mengalami?”

Akhirnya Nabi Musa pun berjanji, bahwa dia akan bersabar dan tidak akan bertanya kepada Nabi Khidir sebelam dijelaskan. Maka mereka pun berjalan, sampai tiba di suatu tempat, Nabi Khidir melihat ada perahu-perahu milik rakyat miskin yang langsung oleh beliau dilubangi. Nabi Musa As lupa akan perjanjian, beliau pun bertanya kepada Nabi Khidir, mengapa engkau membocori perahu-perahu ini? Nabi Khidir pun mengingatkan Nabi Musa As: “Bukankah aku sudah berkata kepadamu bahwa engkau tidak sanggup bersabar bersamaku” (QS. Al Kahfi, 18:72)

Keduanya berjalan lagi, lalu ketemu dengan seorang anak kecil yang langsung dibunuh oleh Nabi Khidir. Nabi Musa pun tidak sabar untuk kembali bertanya, Nabi Khidir kembali mengingatkan Nabi Musa AS bahwa ia telah melanggar perjanjian untuk kedua kalinya. Setelah itu keduanya berjalan lagi memasuki sebuah desa dan melihat sebuah tiang bangunan yang akan ambruk dan langsung diperbaiki oleh Nabi Khidir, padahal penduduk desa itu sama sekali tidak menghargai kehadiran keduanya di desa tersebut. Nabi Musa As pun dengan keheranannya kembali bertanya mengapa Nabi Khidir melakukan itu semua. Maka karena ini sudah ketiga kalinya, sesuai dengan perjanjian berpisahlah keduanya.

Sebelum berpisah Nabi Khidir mengatakan, aku akan jelaskan satu demi satu dari perkara-perkara yang membuat kamu tidak sabar dan menyalahi perjanjian. Kisah pertama, pada saat perahu dibocori, maka yang “terlihat” oleh Nabi Musa As adalah “kejelekkan”, karena perahu milik orang miskin. Khidir berkata: “Ini lebih baik, karena jika tidak bocor maka perahu akan dirampas oleh penguasa yang zalim”. Kedua, kisah tentang anak yang disembelih, karena anak tersebut bila ia tumbuh dewasa kelak akan membawa kedua orangtuanya ke lembah neraka, maka dibunuhlah anak tersebut. Ketiga, perihal tiang bangunan yang akan ambruk lalu diperbaiki karena pemiliknya adalah seorang hamba yang shaleh yang menyimpan harta miliknya di bawah tiang tersebut dan Allah berkenan melindungi harta yang bersangkutan agar kelak bisa diwarisi oleh putra-putrinya.

Pada penghujung ayat 82 surah Al Kahfi dinyatakan oleh Nabi Khidir lewat firman-Nya: “Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan yang engkau tidak sanggup sabar atasnya”.

Untuk mengakhiri bahasan ini, ada baiknya kita merenungkan sebuah kisah yang dikutip, Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam Kitab Tafsirnya. Dikisahkan, seorang warga Negara di Cina, memiliki rumah yang besar dan ladang yang luas serta memiliki banyak kuda peliharaan yang di antaranya ada seekor kuda andalan yang sangat disayanginya. Suatu kali kuda ini hilang, maka masyarakat pun berdatangan kepadanya, seraya berkata, “Kami ikut bersedih dan mudah-mudahan anda bersabar dengan musibah ini”. Orang tersebut tersenyum dan berkata: “Mengapa aku harus bersedih? Karena jangan-jangan hilangnya kuda itu adalah yang terbaik bagiku”.

Suatu ketika dia mendapatkan kuda yang sama bagusnya, maka masyarakat pun berdatangan lagi sambil mengatakan: “Kami ikut berbahagia dan selamat atasmu sudah mendapakan kuda pengganti”. Orang tersebut berkata: “Siapa bilang aku selamat? Jangan-jangan keberadaan kuda ini justru akan membawa musibah bagiku”. Ternyata suatu hari anaknya jatuh saat menaiki kuda barunya, yang mengakibatkan patah kakinya, artinya kuda tersebut ternyata membawa kemudharatan.

Padahal, sebelumnya orang lain berdatangan mengucapkan selamat. Setelah mendengar berita kaki anak tersebut patah oleh sebab naik kuda tersebut, berdatanganlah mereka sambil mengatakan: “Kami ikut bela sungkawa atas patahnya kaki anakmu”. Orang tersebut mengatakan: “Siapa bilang patahnya kaki anakku itu tidak baik? Jangan-jangan patahnya kaki anakku ini sesuatu yang baik”. Diriwayatkan suatu saat terjadi perang di mana Pemerintah menetapkan semua pemuda harus ikut wajib militer dan ikut berperang, ternyata satu-satunya yang dibebaskan dari wajib militer dan tidak ikut berperang hanya si pemuda tersebut karena kakinya patah. Maka orang lain pun berdatangan lagi, sambil mengucapkan: “Selamat anakmu tidak ikut berperang”. Orang tersebut berkata: “Siapa bilang anakku selamat, belum tentu bahkan mungkin yang lebih baik baginya adalah ikut berperang”.

Dari sudut syariat Islam, ikut berperang itu bisa lebih baik dari “dua” sisi: Pertama, peluang untuk mengambil dan atau mempertahankan hak-haknya yang akan dirampas orang lain. Kedua, bila tulus niatnya berperang karena Allah lalu ia gugur sebagai syahid, maka itu akan menjadi jalan baginya menuju syurga.

Oleh karenanya, janganlah kita mengukur sesuatu dengan kemampuan hawa nafsu kita, boleh jadi di balik terjadinya peristiwa yang menimpa diri kita ada hikmah yang bisa kita petik. Kalau prinsip ini bisa kita pegang rasanya aman hidup ini, syaratnya selama kita telah berupaya berjuang untuk hidup di jalan-Nya, pasti Allah akan memilihkan yang terbaik, walaupun sejuta akal manusia mengatakan tidak baik, kita akan katakan ini yang terbaik karena kita berjalan di jalan-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Lainnya..

Taubat dan cobaan ..

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat di forum majelis ta’lim Al Ashr di FB, tentang, “Mengapa jika kita hendak bertaubat, banyak sekali cobaan yang kita hadapi”. Marilah kita mulai dulu dari pengertian kata taubat. Taubat berm...

Selengkapnya

Rahasia dan resep kecantikan Audrey Hepb

Risalah Wanita (EPS 21) Rahasia kecantikan Audrey Hepburn Seorang bintang film amerika terkenal Audrey Hepburn ketika diminta untuk menjelaskan resep kecantikan wanita, ia memberikan jawaban yang luar biasa :

Selengkapnya

Transformasi Pribadi Muslim

Bab 1. Pendahuluan18-Mar-09 Transformasi Pribadi Muslim “Allah berfirman: Dan tiada suatu yang lebih Ku-sukaiDaripada pendekatan hamba-Ku kepada-Ku.Dengan menjalankan apa yang Aku wajibkan kepadanya.Disamping itu selama ...

Selengkapnya

Narsisme..

Risalah Wanita (EPS 20) “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka den...

Selengkapnya

Tentang Do'a (Bag 2)

Apakah do'a orang kafir di kabulkan...? "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?"(Q...

Selengkapnya

Kisah Siti Hajar

Risalah Wanita (EPS 19) Pada saat Nabi Ibrahim membawa Hajar dan puteranya menuju mekkah, Hajar dalam keadaan menyusui Ismail. Hingga Ibrahim menempatkan keduanya di sebuah rumah, dibawah pohon besar di dekat dimana mata air zam-zam nantinya ...

Selengkapnya

Hakikat Mandul

Hakikat Mandul Oleh: Abu Muas T Ada hal yang sangat penting dan layak dipertanyakan kepada diri kita, khususnya bagi para orangtua perihal keturunan atau putra-putri kita. Sebab, mengenai hal ini melalui hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulu...

Selengkapnya

Empowering Spiritual Power Training

Alhamdulillah, selama bulan Ramadhan 1431 H Pelatihan singkat Empowering Spiritual Power telah di gelar beberapa tempat Bandung..... Sebelum bulan ramadhan, Forum Majelis Ta'lim Sebandung Raya menggelar acara Tarhib Ramadhan yang di hadiri oleh pa...

Selengkapnya

Lelaki Pilihan Allah

Risalah Wanita (EPS 24) Banyak sekali ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan kepada kaum wanita,  agar mereka mendapatkan laki-laki yang  Allah pilihkan untuk menjadi suami mereka. Tentunya, lelaki pilihan Allah, adalah mereka...

Selengkapnya

Produktivitas dalam islam

Risalah Wanita (Eps 16) Zakat, termasuk dalam rukun islam yang juga merupakan dari wujud keimanan seseorang. Dalam konteks rukun islam, Zakat sangat berkaitan dengan syahadat, shalat dan puasa yang telah secara singkat telah disampaikan.. Dalam...

Selengkapnya

Invasi Pemikiran

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadany...

Selengkapnya

Antara Jiwa dan Jasad

Kejadian ketika Allah mengambil kesaksian dan sumpah dari setiap jiwa memberikan informasi kepada kita, bahwa pada hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual. Kemudian, setelah kesaksian setiap jiwa di alam ruh / jiwa itu, maka Allah melalui mekani...

Selengkapnya

Shalat dan kebiasaan positif

Seorang filusofi terkenal dari yunani, aristoteles pernah berkata ; “ Kita saat ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan berulang kali dan keunggulan tidak akan di peroleh hanya dari sekedar tindakan, tetapi keunggulan terjadi karena kebiasaan”. ...

Selengkapnya

Wujud Ikhlas dalam Zakat

Ikhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki,  kesuksesan yang  abadi, dan kesuksesan  dalam pandangan Allah. Dalam risalah yang lalu (Wujud Ikhlas dalam Shalat) kita sudah sedikit membahas tentang shalat, yang merupakan wujud dari ke...

Selengkapnya

Wanita dalam Al Quran

Risalah Wanita (Eps 4) Al Quran adalah bentuk kasih sayang Allah, yang bertjuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Bukan untuk membebani manusia, atau menyulitkan manusia. Para ulama sepakat, bahwa secara garis besar, Al Quran ...

Selengkapnya

Kiat mencetak anak yang sholeh

Pada umumnya, setiap orang tua menginginkan anak yang sholeh, anak yang memiliki kepribadian yang baik. Secara singkat, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan anak yang sholeh :

Selengkapnya

Wujud Syahadat

Risalah Wanita (Eps 11)Kisah Wanita Sholehah : Menantu 'Umar Bin Khatab Pada satu saat ketika ‘Umar Bin Khatab sedang mengadakan inspeksi di Madina, Beliau merasa kelelahan, dan pada tengah malam itu ia bersandar pada sebuah dinding. Tiba-tiba ...

Selengkapnya

Iedul Fitri 1433 H

Seluruh Pengurus dan Staff www.drisalah.com mengucapkan : Taqobalallahu minna wa minkum.. Semoga Allah menerima Ibadah kita dan sahabat sekalian... Selamat hari raya Iedul Fitri 1433 H Dan terima kasih kepada mitra yang telah bekerja sama dengan ...

Selengkapnya

Resah - Gelisah, Adakah Obatnya?

Resah-Gelisah, Adakah Obatnya? Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Syahdan pada suatu saat, Sayidina Ali ra, ditanyalah oleh para sahabat dengan sebuah pertanyaan, “Makhluk apakah yang paling kuat di dunia ini?” Beliau seketika pula menjawab, makhluk...

Selengkapnya

Wanita, Wali dan Wakil Allah

Risalah Wanita  (Eps 3): Jika kita memperhatikan Al Quran, seringkali kita temukan kata kami pada ayatnya, misalnya… “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”. ( Al Qadr : 97 : ) Atau dalam ayat lain, “Sesung...

Selengkapnya

Pemimpin dalam Islam

"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seo...

Selengkapnya

Lembaran kertas putih

Risalah Wanita (EPS 27) Tips dalam mendidik anak Seorang anak yang baru lahir itu ibarat sebuah kertas kosong, tinggal peran orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh terhadap anak tersebut. Apabila diatas kertas tersebut dituliskan tentang...

Selengkapnya

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran Oleh : Abu Muas Tardjono Suatu saat, tatkala Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang s...

Selengkapnya

Menjadi tua

Saya tertarik membaca satu artikel, dari seseorang yang menamakan dirinya Om Widy. Dia, berbicara mengenai ‘ketuaannya’…  Saya hanya tertarik, karena saya memang sedang ingin mengetahui… apa yang dirasakan seseorang, di usianya, yang telah menginjak ...

Selengkapnya

More in: Inspirasi

-
+
9

Video Jalan Inspirasi..