Komentar
Suka Situs Ini...?
www.radiorisalah.com






![]() | Hari ini : | 514 |
![]() | Kemarin : | 567 |
![]() | Minggu ini : | 2047 |
![]() | Minggu Lalu : | 3932 |
![]() | Bulan ini : | 3771 |
![]() | Bulan Lalu | 16945 |
![]() | Semua : | 227670 |
IP Anda : 38.107.179.240
,
Today: Feb 07, 2012
Artikel dibaca
Pengunjung dari..
German
- Über den Glauben
- Ist die Religion eine exakte Wissenschaft wie Mathematik ...?
- Produktivität im Islam
- Das Geheimnis und das Rezept der Schönheit von Audrey Hepburn
- Ist es erlaubt in verschiedenen Religionen zuheiraten…?
- ber die Interpretierung (Tafsir)
- Ratschläge für Frauen von Rasulullah SAW
- Herz, Absicht (Niat )& Standfestigkeit (istiqomah)
- Die Frau, die eine Scheidung fordert...?
- Führer im Islam
Akhlaq kepada lingkungan
“.. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? ”. (Al Anbiyaa’ : 21 : 30).
Kalimat ini mengantarkan hubungan antara pernyataan pertama tentang fakta yang di dapat dari hasil penelitian ilmu pengetahuan baik umum maupun khusus, dan ketika ilmu tersebut telah sampai pada puncaknya pada satu titik tertentu, ilmu tersebut akan mengantarkan pada satu titik, bahwa seseorang itu ‘harus’ beriman kepada Dzat Yang Maha Menciptakan dan Mengatur segala kejadian. Sehingga kepastian inilah yang membuat Allah ‘seakan-akan’ bertanya bahwa, mengapa ketika fakta dari ilmu pengetahuan tersebut tidak membuat dirimu beriman, atau mengapa mereka tidak menemukan Allah dibalik semua kehidupan yang ditetapkan melalui air ?.
Selanjutnya, banyak sekali ayat di dalam Al Qur’an yang menyatakan tentang penciptaan manusia yang berasal dari air, salah satu ayat dari sekian banyak ayat tersebut adalah ;
“Dan Dia (Allah) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan dari perkawinan) dan adalah Rabb-mu Maha Kuasa”. (Al Furqoon : 25 : 54).
Jika ayat sebelumnya mengatakan tentang, air sebagai substansi dasar dari kehidupan secara umum, maka ayat di atas menyatakan bahwa tanpa air, tidaklah satu manusiapun akan terbentuk dan selanjutnya manusia tidak akan dapat melangsungkan proses berketurunan yang pada akhirnya dapat melahirkan dan hubungan kekerabatan. Ketetapan atas hal ini ditegaskan melalui kalimat ‘Rabb-mu Maha Kuasa’. Hal lainnya yang berkaitan dengan air dan kehidupan bagi manusia, adalah sebagaimana firman Allah yang ‘sangat sederhana’ tapi juga mengandung makna yang ‘sangat luar biasa’ sebagaimana ayat ;
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia (air itu) asin, Maka mengapakah kamu tidak bersyukur? “. (Al Waqi’ah : 56:68-70).
Melalui ayat ini Allah meminta manusia untuk menggunakan potensi yang telah di berikan olehnya berupa hasil analisa pikiran dan perasaan, melalui perintah ‘Terangkanlah…’ yang dengan kata lain, telitilah (dengan potensi yang telah aku berikan pada dirimu wahai manusia) lalu nyatakanlah kebenaran (al haq) itu tentang air yang kamu minum itu. Sudah kita ketahui bersama bahwa, 70% tubuh manusia adalah terdiri dari air, suplai air baik secara kuantitas maupun kualitas dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara menyeluruh. Tanpa minum, tidaklah hidup seorang manusia. Lalu Allah bertanya, yang juga merupakan penegasan tentang siapakah yang menurunkan air, maka terangkanlah !…
Dan di akhir ayat ini Allah secara tidak langsung memerintahkan manusia agar ia bersyukur karena Allah telah memberikan kemudahan pada manusia. Salah satu bentuk kemudahan tersebut adalah, proses ‘penyaringan’ yang sangat panjang rantainya, akurat, cermat, dari mulai mekanisme ‘watercycle’ pada proses turunnya hujan sehingga hasil akhir dari proses tersebut adalah air yang tawar, bukan air yang asin. Penggunaan teknologi terasa kental pada nuansa ayat ini, dengan teknologi tertentu Allah merubah air laut yang asin, air sungai yang kotor, unsur air yang ada pada tumbuhan dan tanaman, dan unsur lainnya yang Allah lebih mengetahuinya sehingga ketika turun hujan, maka air tersebut tidak menjadi asin, atau tetap kotor tetapi, yang diturunkan adalah air yang sangat bersih. Sederhana memang, tapi sungguh luar biasa.
Berkaitan dengan apa di minum oleh manusia, dalam ayat lain juga, Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan apa yang ia makan yang kemudian apa yang dimakannya itu sangat berhubungan dengan air yang Allah turunkan melalui sebab hujan, sebagaimana ayat ;
“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),” (‘Abasa :80 :24-25).
Dan pada akhirnya, kedua ayat ini (tentang makan dan minum yang merupakan pokok kehidupan manusia) akan mengantarkan manusia pada keimanan kepada Allah, Dzat yang Mengatur setiap kejadian..
Tanpa makan dan minum, manusia tidaklah akan hidup atau bahkan berketurunan. Setelah kedua hal tersebut dapat dipenuhi, ketika manusia itu mulai melakukan proses berketurunan, maka Allah menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang ketetapan ini, melalui ayat ;
“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih, Agar kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”. (Al Furqoon : 25 :48-49).
Keberadaan kumpulan manusia yang banyak dari hasil proses berketurunan perlu sebuah tempat yang disebut di dalam Al Qur’an dengan sebutan negeri, (atau saat ini bisa kita kenal kota besar, kecil, urban sampai desa yang kecil). Jika kita melihat sejarah, maka bagaimanakah mulai terbentuknya kehidupan masyarakat manusia di Mekkah ?, kecuali Allah mengeluarkan air dari tanah (zam-zam) sebagai sumber dari kehidupan sebuah negeri. Melalui ayat ini dapat kita pahami bahwa, sebuah negara, memerlukan sumber air yang cukup untuk menopang kehidupannya. Berkaitan dengan air dan masyarakat dalam satu negeri, Allah juga telah mengatur setiap kadar sesuai dengan kebutuhan satu negeri yang manusia tidak pernah dapat mengatur kadar kebutuhan tersebut secara tepat. Dan semua ini adalah merupakan fasilitas yang Allah berikan pada manusia untuk kehidupan mereka di dunia yang kemudian, Allah sandingkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan akhirat, agar kembali, manusia di ingatkan akan keimanannya kepada Allah dan hari akhir, sebagaimana ayat ;
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)”. (Az Zukhruf :43:11).
“..dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan..”. (Qoof :50 :11).
Dan dalam ayat lain, melalui ayat ;
“Katakanlah: "Terangkan lah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu? ". (Al Mulk : 67 :30).
(Qul) Katakanlah, secara bahasa, salah satunya dapat kita pahami dan bermakna sebagai bentuk afirmasi kepada diri maupun kepada orang lain, dengan menemukan bukti-bukti yang kuat. Tentang apa yang diperintahkan untuk dikatakan. Yang diperintahkan untuk dikatakan pada ayat ini adalah, ‘Terangkan lah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering’, kata ‘gauran’ berarti masuk ke dalam yang apabila dikaitkan dengan air, maka ketika sumur-sumur menjadi kering karena air tanah sudah menyusut ke dalam. Ulama saat ini juga mentafsirkan ayat ini dengan krisis air yang terjadi di kalangan manusia. Maka siapakah yang ‘betul-betul’ berkuasa jika hal ini (kekurangan air) telah dan akan terjadi ?. Kata terangkanlah, dan kata katakanlah adalah dua bentuk penegasan yang perlu dimaknai dengan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia. Dan ujungnya kembali berorientasi menuju iman kepada Allah.
KEHIDUPAN YANG IDEAL
Dari ayat-ayat diatas, kita dapat membayangkan satu tatanan kehidupan yang sangat ideal yang Allah telah berikan untuk kehidupan manusia yang juga berkaitan dengan air. Jika kita mulai dari kebutuhan yang sangat mendasar dan sangat dekat dengan manusia yaitu makan dan minum, maka kita sama sekali tidak dapat menghilangkan fungsi dan peranan air di dalamnya. Unsur air ada dalam setiap makanan, atau setidaknya melalui wasilah air-lah apa yang kita makan dan minum dari bisa menjadi ‘ada’. Dan sebagaimana firman Allah, melalui airlah, kebanyakan makhluk hidup yang ada di bumi ini hidup. Allah telah mengatur air agar sampai pada seluruh makhluk dengan cara-Nya yang Maha Cerdas sebagai pencipta. Allah juga sediakan seluruh sarana dan prasarana yang berkaitan tersedianya air untuk kehidupan melalui tatanan lingkungan yang baik. Dari mulai gunung, sungai, laut, tanaman, angin, awan, dan lain sebagainya yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang ditundukkan untuk manusia agar dapat terjadinya proses turunnya hujan, penyerapan air tanah, proses penyaringan , dll.
Maka jika manusia ‘menyadari’ pentingnya air sebagai sumber kehidupan, maka manusia pasti akan juga ‘menyadari’ juga tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai penunjang agar kebutuhan air. Keduanya saling berhubungan, bahkan hubungannya sampai tatanan langit dan seluruh penduduk jagad raya. Semuanya telah di ‘disain’ dengan rapi sesuai dengan fungsinya, saling berhubungan, ditundukkan untuk kepentingan manusia.
Dan tujuan dari semua itu, salah satunya adalah agar manusia bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada mereka. Bersyukur, dapat kita artikan dengan berterima kasih. Ketika berterima kasih ini menjadi satu tujuan, maka pastilah ada aturan dan cara dalam berterima kasih atas pemberian yang telah diterima, dan sikap terima kasih atas apa yang telah Allah berikan hanya akan terjadi jika ia di dasari dengan kekuatan keimanan. Dan keimanan seseorang kepada Allah, hanya dapat terjadi jika seseorang itu telah di terangi dengan ilmu atau pemahaman tentang hakikat dari kehidupannya. Dan hakikat dari kehidupan seseorang itu sangat erat kaitannya dengan identitas dirinya sebagai makhluk ciptaan, untuk apa ia diciptakan, mengapa ia diciptakan, dari mana ia berasal dan dari mana ia akan kembali.
Kadar syukur seseorang itulah yang nantinya akan melahirkan satu tindakan terhadap apa yang telah Allah sediakan untuk kepentingan hidupnya, dalam konteks ini, apapun juga yang berhubungan dengan air. Iman yang diwujudkan dalam bentuk Syukur adalah kata kunci pertama. Hal ini sangat penting, sebagaimana firman Allah;
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al A’raaf 7 :96)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim 14: 7).
Salah satu bentuk syukur yang Rasulullah ajarkan pada umatnya antara lain adalah, jangan menguasai air dan menjual air, atau melakukan pemborosan terhadap air walaupun seseorang itu melakukan wudhu di tengah sungai. Berakhlak dengan baik terhadap makanan dan minuman, bersedekah dengan seteguk air, dan masih banyak contoh lainnya yang dapat kita temukan pada perilaku Beliau yang merupakan solusi dari setiap masalah yang akan timbul yang disebabkan dan berkaitan dengan dan oleh ‘air’.
Air adalah sumber kehidupan, dengan kata lain, air juga adalah sumber kematian. Air adalah harapan, dan air juga adalah ketakutan. Air adalah kesehatan dan air adalah penyakit. Air memberikan kehidupan mulai dari individu, hingga satu negara, yang dapat juga kita artikan jika tidak ada air maka tidaklah akan hidup seorang manusia bahkan lebih jauh lagi kehidupan satu negara. Penjabaran hal ini sangat panjang, dan masuk sampai ke hal yang sangat mendetail yang tidak akan diungkapkan pada uraian sederhana ini, tetapi, kesadaran akan hal ini hanya betul-betul bisa dicapai jika seseorang itu menggunakan pada seluruh potensi yang ia miliki, tidak hanya intelektual, emosional, atau spiritualnya saja, tetapi secara menyeluruh agar hubungan seluruh alam raya ini menjadi jelas baginya.
KERUSAKAN
Ketika manusia tidak menggunakan seluruh potensi yang ia miliki dalam memandang hal ini (atau mungkin ia menganggap hal yang sepele / remeh, atau mungkin juga ia tidak sadar) maka apa yang akan terjadi ?.
Allah berfirman melalui ayat ;
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu Muhammad), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (Al Baqoroh :2 :205-206).
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar Ruum 30 : 41).
Melalui ayat-ayat diatas, yang pertama dilakukan adalah, mereka berpaling dari petunjuk Allah melalui Rasulullah. Melihat redaksi ayat ini, dapatlah kita generalisir bahwa boleh jadi seseorang itu menghilangkan aspek keimanan secara menyeluruh, atau sebagiannya saja. Mereka tidak menghiraukan bimbingan wahyu ilahi dalam menjalankan kehidupannya. Ketika ‘hilangnya’ iman dari seseorang, maka secara ‘sadar’ maupun ‘tidak sadar’, ia akan melakukan kerusakan di muka bumi, sehingga ujung dari apa yang ia lakukan itu adalah musibah yang Allah timpakan pada mereka sendiri karena perbuatan tangan mereka sendiri. Hal ini juga dinyatakan dalam ayat lain;
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa”. (Ar Ruum 30:36)
Tetapi pada kenyataannya memang, musibah itu betul-betul telah datang, dan datangnya musibah ini adalah dengan tujuan agar mereka kembali ke jalan yang benar, atau agar mereka bertaubat dari perbuatan mereka.
Kelihatannya sangat sederhana, tetapi, ini menjadi sangat rumit, ketika penyimpangan yang dilakukan oleh manusia memang sudah ‘sangat bertumpuk-tumpuk seperti benang kusut’. Dan dampak yang terjadi adalah rusaknya tatanan sarana dan prasarana yang Allah sediakan untuk menopang kehidupan manusia, dalam konteks ini, hal yang berhubungan dengan tersedianya air. Dan lebih jauh lagi, kesehatan masyarakat satu negara akan menurun, kematian semakin banyak, dan boleh jadi manusia akan saling membunuh untuk mendapatkan air.
Krisis air yang terjadi saat ini adalah masalah global yang menjadi kekhawatiran seluruh manusia di dunia (baca lampiran). Ada tujuh tantangan dari mereka yang mulai ‘merasakan’ dibutuhkan tindakan segera dari hal yang berkaitan dengan air.
Dari "Deklarasi The Hague" yang merupakan kesepakatan negara-negara pesertanya telah diputuskan bagaimana menjamin ketersediaan air dunia di abad 21 ini. Untuk mewujudkan isi kesepakatan itu ada tujuh tantangan; yaitu :
1. memenuhi kebutuhan pokok penduduk,
2. menjamin penyediaan pangan,
3. melindungi ekosistem,
4. membagi sumberdaya air antar wilayah yang berkaitan,
5. menanggulangi resiko,
6. memberi nilai air dan terakhir,
7. menguasai air secara bijaksana
Apa yang kita lihat diatas adalah solusi dari hasil pemikiran mereka yang ‘concern’ terhadap air, dan ketujuh poin diatas adalah ‘solusi’ dari masalah yang serius yang menjadi ‘ketakutan’ bagi masyarakat dunia (Second World Water Forum and Ministerial Conference di The Hague, Nederland Maret 2000 lalu, dimana Indonesia termasuk salah satu negara yang menandatangani "Deklarasi The hague" tentang keterjaminan air di abad 21 ini.).
Jika kita kaji masalah diatas kita dapat menemukan solusinya secara general dengan ‘mudah’. Cukuplah manusia itu beriman (dengan benar dan kaffah), maka dampak dari keimanan itulah yang akan membuat 7 point diatas menjadi terbalik posisinya, kami uraikan secara singkat berikut ;
Solusi ini kami uraikan tidak secara berurutan. Kita mulai dari iman, orang yang tidak berpaling dari peringatan dan petunjuk Rasulullah, adalah mereka yang akan mewujudkan bentuk iman mereka (yang 6 dalam rukun iman) dalam bentuk bersyukur, syukur memiliki kajian yang sangat luas yang perlu diketahui dan di amalkan bagi setiap mereka yang beriman kepada Allah. Dalam konteks ini, jika seseorang bersyukur, maka ia akan mencoba untuk mengimplementasikan syukur tersebut kepada apa yang telah Allah berikan yaitu karunia di alam semesta. Ketika seseorang menyadari bahwa apa yang ada disekitarnya itu ‘hidup’ dan manusia itu menyadari bahwa semua itu hanyalah sarana dan prasarana (salah satu bentuk fasilitas) yang disediakan oleh Allah sesuai dengan tujan pokok penciptaannya, maka ia ‘pasti’ akan lebih menghargai apa yang telah disediakan oleh Allah untuk dirinya. Dorongan iman yang membentuk rasa syukur seseorang itu akan sangat berdampak baik terhadap lingkungan. Sedangkan dorongan nafsu yang tidak terkendali hanya akan membawa kerusakan pada lingkungan dan manusia lainnya.
Berakhlak yang baik terhadap lingkungan dan manusia sangat luas cakupannya, yang tidak akan kita uraikan di sini. Tetapi setidaknya ini sudah menjadi solusi bagi point no 3, ‘melindungi ekosistem’. Bahkan lebih jauh lagi, tidak hanya melindungi ekosisitem, tetapi juga Allah akan menurunkan berkah yang banyak dari langit dan bumi, sebagaimana ayat ;
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al A’raaf 7 :96)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim 14: 7).
Berakhlaq yang baik terhadap manusia juga merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah. Ketika seseorang memberi makan kepada orang lain yang membutuhkan, maka itu juga merupakan satu bentuk syukur. Orang beriman di ikat dengan aqidah, dan ikatan inilah yang membuat muslim dan muslim lainnya bersaudara, melalui ikatan aqidah ini juga menuntut seseorang itu agar ia dapat menjadi ‘rahmatan lil ‘alamiin’, atau bermanfa’at bagi sebanyak-banyaknya manusia. Jika saja petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah di amalkan, maka hal ini sudah menjadi solusi untuk poin 1,2,4 dan 7.
Diatas kertas memang sangat mudah menyelesaikan masalah ini, tetapi pada kenyataanya menjadi sangat sulit. Boleh jadi hal ini disebabkan bukan karena belum ada yang mencoba melakukan kebaikan dalam hal ini, tetapi yang melakukan kebaikan jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang ‘melampaui / melanggar’ petunjuk yang telah diberikan oleh Allah. Atau kesadaran secara menyeluruh akan hal ini belum dipahami oleh sebagian masyarakat yang senantiasa di sibukkan dengan urusan masing-masing.
Apa yang hilang…?
Mungkin ada yang beranggapan tidak ada konteks antara keimanan seseorang kepada Allah dengan masalah krisis air, marilah kita lihat ilustrasi ini.
Di negeri antah berantah, sebuah lembaga telah membuat program kerja senilai1 milyar untuk program krisis air, seluruh aspek dari program itu telah tertulis dengan rapih dan jika dilaksanakan maka akan berdampak dengan baik. Pemerintah setuju mengeluarkan anggaran sebesar permintaan tersebut, namun pada prakteknya, ada oknum yang ‘memotong’ anggaran tersebut. Dikucurkan uang senilai 1 milyar, tapi yang sampai untuk melaksanakan program tersebut hanya 500 juta, sedangkan yang 500 juta lagi masuk ke sekelompok orang di pemerintahan untuk ‘biaya administrasi’ yang tidak pernah tercantum dalam anggaran. Dalam kasus ini, manakah yang harus diperbaiki…? Adakah hubungan keimanan seseorang dengan program krisis air….? Peraturan tentang korupsi sudah bukan hal yang asing untuk ‘tidak diketahui’, tetapi adakah system controlling yang lebih baik dari sekedar peraturan yang disepakati bersama kemudian, dilanggar beramai-ramai, yang peraturan itu boleh dipastikan bukan satu hal yang buruk. Pointnya bukan pada program dan manfa’atnya, atau pada peraturan korupsinya, tetapi pada hati manusia yang tidak merasa bahwa ada dzat yang MAHA MELIHAT atas apa yang dilakukannya…dan ini adalah IMAN.
Dalam ilustrasi lain,
Sebuah Program krisis air menghimbau pada setiap warga masyarakat di negeri antah berantah untuk tidak melakukan pencemaran terhadap lingkungan yang berpengaruh terhadap air. Tetapi program ini tidak dapat berjalan dengan baik, karena industri tekstil yang sedang terpuruk kini telah bangkit kembali, dan limbah pabrik dari industri tersebut membuat ‘gangguan’ pada ekosistem, terutama yang berkaitan dengan air bersih. Lembaga program krisis air tersebut tidak memiliki kekuatan untuk menuntut industry tersebut, karena yang berbicara dalam hal ini adalah uang. Ketika pengelolaan lembah tersebut diharapkan dirubah agar menjadi ramah lingkungan, hal itu pun boleh jadi tidak diterima, karena, kembali lagi yang berkuasa dan yang menjadi tujuan adalah profit semata, tanpa memperhatikan nasib masyarakat lainnya atau lingkungan yang terkena dampak dari limbah industri tersebut. Atau yang lebih parahnya lagi, program krisis air ini ditentang oleh warga masyarakat yang tidak memahami program krisis air tersebut, bahkan mereka beranggapan bahwa program tersebut hanya akan ‘menghalangi’ gaji yang akan mereka habiskan untuk nonton konser dang-dut….? Dengan apa negara tersebut harus memperbaiki sikap masyarakat yang sudah jauh dari kesadaran peduli terhadap lingkungan….? Kecuali dengan petunjuk ilahi secara menyeluruh..
Banyak sekali contoh lainnya yang dapat kita temukan dalam keseharian kita yang ujung-ujungnya dapatlah disimpulkan bahwa hal itu terjadi karena lemahnya ‘kekuatan’ keimanan seseorang, atau ‘hilangnya’ kesadaran seseorang atau masyarakat terhadap hal yang sesungguhnya berhubungan langsung dengan kelangsungan kehidupan makhluk di bumi.
PEMETAAN
1. Belum optimal dalam menumbuhkan sikap bersyukur yang di wujudkan dalam bentuk kepada sesama manusia dan kepada lingkungan (makhluk hidup lainnya).
2. Kurangnya kesadaran sebagai makhluk yang hidup saling berhubungan dan saling ketergantungan dengan yang lain.
3. Kurangnya kesadaran akan kepentingan berbagi dengan sesama manusia lainnya dalam konteks generasi saat ini juga generasi di masa mendatang (lintas generasi).
4. Kurangnya upaya maksimal dalam mengoptimalkan penggunaan air.
5. Kurangnya kesadaran akan kesehatan masyarakat secara umum.
Masih banyak hal lainnya yang bisa kita tuliskan atau di masukkan di atas, tetapi lima hal diatas hanya difokuskan kepada pada perbaikan kualitas kesadaran manusia yang di harapkan kesadaran tersebut dapat memberikan kekuatan untuk melakukan satu tindakan yang riil dan bermanfaat.
Lainnya..
Bahaya Kemunkaran IlmuBahaya Kemunkaran Ilmu Oleh : Tardjono Abu Muas "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. ... Selengkapnya |
Wujud Ikhlas dalam ShalatEmpowering Spiritual Power Ikhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki, kesuksesan yang abadi, dan kesuksesan dalam pandangan Allah. Hal ini sebagaimana ayat : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ... Selengkapnya |
Kiat mencetak anak yang sholehPada umumnya, setiap orang tua menginginkan anak yang sholeh, anak yang memiliki kepribadian yang baik. Secara singkat, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan anak yang sholeh ... Selengkapnya |
Ghazwul FikriGhazwul Fikri Oleh : Abu Muas Tardjono Disasari atau tidak, kini kaum kuffar dan munafiqin secara gencar dan sistematis berupaya keras mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang dan berupaya pula menghancurkan Islam ... Selengkapnya |
Ilmu dan ImanRisalah Wanita (EPS 7)Tentunya, kita pernah mendengar, bagaimana perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak wanita..Salah satu perjuangan yang Beliau anggap penting adalah mendirikan sekolah bagi kaum wanita.Karena pada waktu itu, ... Selengkapnya |
Wujud SyahadatRisalah Wanita (Eps 11)Kisah Wanita Sholehah : Menantu 'Umar Bin Khatab Pada satu saat ketika ‘Umar Bin Khatab sedang mengadakan inspeksi di Madina, Beliau ... Selengkapnya |
Melupakan seseorang...Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat FB, tentang, “Bagaimana cara melupakan seseorang agar dirinya menjadi tenang”.Ada dua hal yang ingin saya garis bawahi ;Yang pertama, sebagaimana ayat ;"(yaitu) ... Selengkapnya |
Lembaran kertas putihRisalah Wanita (EPS 27)Tips dalam mendidik anakSeorang anak yang baru lahir itu ibarat sebuah kertas kosong, tinggal peran orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh terhadap anak ters... Selengkapnya |
Nasihat Rasulullah SAW bagi kaum wanitaRisalah Wanita (EPS 28) “Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan peng... Selengkapnya |
Kisah Siti KhadijahRisalah Wanita (EPS 17) Khadijah binti khuwailid, adalah nama yang sudah tidak asing lagi…. Beliau di juluki Ath-thohirah, yang berarti bersih dan suci. Beliau tumb... Selengkapnya |
Menyembunyikan KebenaranMenyembunyikan Kebenaran Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA “Innal ladziina yaktumuuna maa anzalallaahu minal kitaabi wa yasytaruuna bihii tsamanan qaliilan ulaa-ika maa ya’kuluuna fii buthuunihim illaan naara wa laa yukallimuhumullaahu yaumal ... Selengkapnya |
Belajar dari AlamRisalah Wanita (EPS 26) (Mencetak anak yang sholeh) Allah memberikan alam raya ini selain untuk dinikmati, tetapi juga untuk di tafakuri, marilah kita mengambil satu pela... Selengkapnya |
Syarat Mencapai Kesuksesan HakikiEmpowering Spiritual Power Kesuksesan dalam pandangan manusia adalah keberhasilan dari sebuah upaya yang telah di tempuh…atau hasil yang sesuai dengan harapan yang di dapatkan dengan upaya dan pengorbanan. Dalam konteks kesuksesan ... Selengkapnya |
Akhlaq kepada lingkunganMelalui air Allah jadikan segala sesuatu yang hidup, banyak sekali fakta dari hasil penelitian ilmu pengetahuan modern menyatakan, bahwa hampir seluruh makhluk di bumi ini memerlukan air sebagai salah satu ... Selengkapnya |
Akidah & Akhlak MuliaAkidah & Akhlak Mulia Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa pun yang kalian infakkan, tentang hal ... Selengkapnya |
Tentang PuasaRisalah Wanita (Eps 14) Jika saja ada…, Sebuah Mall terkenal yang menjual berbagai macam produk dari mulai rumah tangga, pakaian, alat kecantikan, makanan dan minuman, memberikan ... Selengkapnya |
Al Quran dan WanitaRisalah Wanita (Eps 1) :Ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat dahulu yang sangat erat kaitannya dengan diturunkannya Nabi Adam Dan Siti Hawa untuk menjadi khalifah di bumi. Sebagaimana yang ... Selengkapnya |
Tentang CintaRisalah Wanita (EPS 22) Cinta yang bersemayan dalam hati, merupakan hal yang banyak mengandung misteri… Pembahasannya tidaklah pernah berakhir…sampai tidak ada lagi manusia yang memi... Selengkapnya |
Kepanikan Zionis IsraelKedunguan, kebebalan dan kekebalan Zionis-Israel terhadap kutukan masyarakat dunia atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina dan Libanon, rupanya kini bisa dibuat “paranoid” (ketakutan) oleh Randa Ghazi seorang gadis belia yang menulis ... Selengkapnya |
Kenangan terindah..Indahnya sebuah kenangan membuat kita mencoba untuk mengulangi lagi apa yang pernah kita lakukan....tersenyum, bergembira, bersedih dan berabgai hal lainnya ketika mengingat apa yang pernah kita rasakan... Ber-empati kepada sesama, ... Selengkapnya |
Krisis Ekonomi..?Banyak manusia yang menjadi ketakutan karena disebabkan krisis ekonomi...Krisis ekonomi tentunya akan berpengaruh dan berkaitan terhadap harta seseorang..Hal ini tentunya akan sangat memperngaruhi kehidupan seseorang..., Bagaimanakah Islam memandang hal ... Selengkapnya |
Penyebab keraguan dalam imanKomitmen merupakan kunci yang penting dalam membukan kesuksesan hakiki. Sebagaimana uraian yang lalu, salah satu faktor yang mempengaruhi kekuatan komitmen seseorang adalah keimanan seseorang kepada Allah dan hari ... Selengkapnya |
Rahasia dan resep kecantikan Audrey HepbRisalah Wanita (EPS 21) Rahasia kecantikan Audrey Hepburn Seorang bintang film amerika terkenal Audrey Hepburn ketika diminta untuk menjelaskan resep kecantikan wanita, ia memberikan jawaban yang... Selengkapnya |
Empowering 7 TrainingAlhamdulillah pelatihan reguler pada tanggal 25/06/2011 telah selesai dilaksanakan... Kami mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah bersedia mengikuti Empowering Spiritual Power.. Semoga apa yang disampaikan dapat memberikan manfaat bagi ... Selengkapnya |
|
More in: Inspirasi
|
||
- + 9 |
||
Video dari kami
| Timbangan Lihat selengkapnya |
Amal Manusia Lihat selengkapnya |
Ucapan dan tindakan Lihat selengkapnya |
| Perjalanan Manusia Lihat selengkapnya |
Kemah di padang pasir |
Raja dan Ulama Lihat selengkapnya |









