"Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera."
(HR. Tirmidzi)

Komentar

Suka Situs Ini...?

www.radiorisalah.com

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini :51
mod_vvisit_counterKemarin :74
mod_vvisit_counterMinggu ini :699
mod_vvisit_counterMinggu Lalu :1036
mod_vvisit_counterBulan ini :3239
mod_vvisit_counterBulan Lalu0
mod_vvisit_counterSemua :547693

Sedang Online: 3
IP Anda : 54.196.159.11
,
Today: Oct 31, 2014

Artikel dibaca

Content View Hits : 909570



Informasi & Registrasi : SMS : 0813-21204471 - 081-802003336 - Pin BB : 21A16470

User Rating: / 0
PoorBest 

Indahnya Ukhuwwah Islamiyyah

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

 

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka turutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), maka kalian bercerai-berai dari jalan-Nya. Demikianlah yang diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al An’aam, 6:153).

 

Betapa sangat pahit jika kita rasakan, krisis “multidemensi” yang dihadapi dan dialami bangsa ini belumlah ada tanda-tanda yang menggembirakan untuk menuju ke arah perbaikan. Bahkan bila kita mau jujur, jangankan secara perlahan menuju ke arah perbaikan, tapi sebaliknya malah semakin hari semakin terasa bangsa ini makin terpuruk dalam jurang kenistaan.

Harga diri sebagai sebuah bangsa lambat-laun nyaris sirna. Bahkan, kini negara kita sudah termasuk kelompok negara “terkorup” di dunia. Ironisnya, targedi ini justru menimpa sebuah bangsa yang “mengklaim” dirinya menjadi sebuah bangsa dan negara yang “notabene” dihuni penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Pertanyaannya, kenapa tragedi ini harus terjadi? Jawabnya, ini bisa terjadi karena sangat tidak menutup kemungkinan ummat Islam yang jumlahnya mayoritas di negeri ini perannya sangat terasa “belum” optimal, khususnya dalam membina “Azas Persatuan dan Kesatuan”. Padahal, azas ini merupakan salah satu azas yang sangat ditekankan oleh Islam. Tujuan dari azas ini tiada lain agar ummat yang jumlahnya mayoritas ini tidak lumpuh karena hilangnya kekuatan dan kewibawaan dan tidak terbinanya persatuan dan kesatuan dalam Ukhuwwah Imaaniyyah dan Islamiyyah. Kondisi ini membuat “musuh-musuh Islam tertawa mengejek”.

Ibarat kita tinggal di sebuah rumah di mana tetangga sebelah rumah kita memelihara seekor anjing yang dibiarkan berkeliaran. Setiap pagi, anjing milik tetangga kita itu selalu lewat di depan rumah kita. Atas dasar rasa “jijik” dan “najis” dari liur binatang tersebut kita pun mengambil sebuah batu kerikil dan melemparnya. Lemparan batu kerikil tepat mengenai kepala anjing tersebut. Namun, terkena lemparan kerikil “hanya” membuat anjing tersebut “menggeleng-gelengkan kepalanya” sambil “melirik dan tersenyum sinis”.

Jika setiap pagi kita melakukan hal yang sama, setiap kali anjing tersebut lewat kita lempar lagi dengan sebutir batu kerikil. Dan, anjing tersebut ditakdirkan Allah berusia panjang 15 tahun misalnya, “anjing itu akan terus tersenyum sinis menertawakan kita”, sama sekali tidak membuat anjing itu menjadi takut karena batu kerikil itu sama sekali tidak mengakibatkan rasa takut sedikit pun, maka akan tetap begitu seterusnya. Namun, jika batu kerikil yang selama 15 tahun itu kita kumpulkan dalam sebuah karung, lalu kita lemparkan ke anjing tersebut, maka Insya Allah anjing tersebut tidak akan menggeleng-gelengkan kepala lagi karena sudah mati.

Demikianlah, diakui atau tidak, ternyata kita selama ini “belum” pernah mampu membina persatuan dan kesatuan “bak” batu kerikil dalam sebuah karung tadi. Sebaliknya, kita masih senang terpisah jauh antara batu kerikil yang satu dengan batu kerikil lainnya, hingga akhirnya walaupun jumlah kita mayoritas menjadi lumpuh dan tidak memiliki wibawa. Kita masih senang menjadi “batu kerikil” yang “terpisah-pisah” dalam beberapa kelompok, golongan atau partai. Setiap pemilu, ummat Islam terpecah dalam berbagai kelompok atau partai. Kondisi seperti ini sangat rentan terhadap timbulnya perselisihan karena menyangkut berbagai macam kepentingan. Bahkan, yang memprihatinkan tidak jarang antarkelompok atau partai pun saling menghujat. Ironisnya, kita yang mayoritas malah terkadang mengikuti keinginan kaum minoritas.

Bila kita mau cermati, sebenarnya perselisihan itu dapat menimbulkan kerusakan pada hubungan baik antarsesama yang pada gilirannya akan bisa merusak nama Islam dan ummatnya. Islam sendiri adalah satu-satunya agama yang mengajak ke dalam ikatan persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling tolong-menolong dan membantu serta mengecam perpecahan dan perselisihan. Karena perselisihan itu sendiri pada dasarnya akan bisa menyebabkan kegagalan dalam sebuah perjuangan yang pada gilirannya pula dapat mengakibatkan hilangnya kewibawaan dan rasa disegani baik oleh kawan atau lawan.

Padahal, azas persatuan dan kesatuan ini telah ditegaskan melalui seruan-Nya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal” (Al Hujuraat,49:13). Disadari atau tidak, di negeri kita ini saja telah Allah SWT ciptakan berbagai suku, warna kulit, berbagai macam budaya dan berlainan pula status sosialnya. Semua ini bukan untuk kita saling membangga-banggakan diri. Tetapi, kita diciptakan berbeda-beda tiada lain hanya untuk, “Lita’aaraafu”, sekadar memudahkan kita untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya.

Al Qur’an juga telah menegaskan bahwa kaum muslimin, kendati pun berbeda jenis, warna kulit, bahasa, dan berbeda pula tingkatan status sosialnya adalah tetap satu ummat, yaitu menjadi ummat yang adil dan pilihan yang dijadikan Allah SWT sebagai saksi atas perbuatan manusia (Al Baqarah, 2:143). Menjadi pula ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran serta beriman kepada Allah (Ali Imran, 3:110).

Pertanyaannya, akankah kita mau berupaya menjadi ummat yang terbaik yang salah satunya dengan mau kembali belajar tentang sejarah kehidupan ummat-ummat terdahulu baik yang mengalami kemajuan maupun kemunduran? Allah SWT lewat firman-Nya mengingatkan: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal” (Yusuf,12:111).

Diakui atau tidak, betapa tidak sedikit peran ummat Islam tempo dulu di negeri ini dalam ikut memperjuangkan satu tujuan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka sekaligus menjadi bangsa yang bermatabat dan memiliki harga diri. Sejarah mencatat, betapa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini bukanlah hadiah dari kaum penjajah dan bukan pula semata-mata anugerah dari Allah SWT yang sepi dari perjuangan dan pengorbanan. Bahkan lembaran sejarah itu sendiri tidak mampu menccatat lagi berapa banyak jiwa para syuhada dan pahlawan yang telah gugur. Berapa banyak darah yang telah ditumpahkan dan betapa tidak terkiranya jeritan, pekikkan dan rintihan penderitaan yang sempat menggema di bumi nusantara ini, karena di benak para pejuang kala itu hanya ada satu tekad, “Merdeka atau Mati”.

Kini, sudah selayaknyalah jika ummat Islam di negeri ini kembali menyamakan tujuan dan merapatkan barisan sebagaimana miniatur kesatuan dan persatuan ummat yang kita wujudkan melalui shalat berjamaah. Di mana kita sama-sama menuju “satu” titik tujuan yang sama yakni ridha Allah dengan barisan yang rapat dan lurus. Mampu dan maukah kita mewujudkan makna dan hakikat shalat berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Mampu dan maukah kita menentukan “satu” titik tujuan yang sama yakni semata-mata bertujuan untuk mencapai ridha Allah dalam memperjuangkan tegaknya syariat Allah dalam kehidupan?

Kita harus merasa malu dan prihatin, Muhammad Rasulullah Saw, mulai menyusun “Shaaf” (barisan) dari “satu orang menjadi banyak”. Sementara kita, mulai dari banyak tapi satu demi satu mengundurkan diri dari barisan dan dari komitmennya kepada Islam. Karena langsung atau tidak langsung, kita keluarkan dari barisan hanya karena berbeda faham, bukan dalam “Ushul ad Dien” (pokok-pokok dan prinsip dasar Agama). Lalu kita bagi-bagi ummat kedalam kotak-kotak “Hizbussiyaasiyyuun” (Partai Politik) atau “Hizbusy-syar’iyyuun” (Golongan Faham Syari’ah Furu’iyyah).

Kita harus segera berhenti dari lagu lama ini. Sehingga tidak perlu terulang lagi ironi, Muslim memusuhi Muslim, Muslim mencurigai Muslim, Muslim yang satu sibuk memukul Muslim lainnya, atau saling memukul satu sama lain. Sehingga setelah masing-masing babak-belur habis energi dan wibawa, akhirnya tidak berdaya di hadapan lawan yang sesungguhnya.

Mari kita sama-sama renungkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak aIndahnyada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al An’aam, 6:159).

Mari kita jadikan organisasi atau partai “hanya sebagai alat” untuk mencapai tujuan. Sebagaimana yang diajarkan Allah lewat firman-Nya: “Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai” (Ali Imran, 3:103). Hanya bila kita telah berupaya secara optimal dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT dalam kehidupan ini, barulah kita bisa berharap akan janji Allah SWT yang lewat firman-Nya: “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (Muhammad, 47:7).

Wallahu a’lam bish-shawab.


Lainnya..

Perjalanan Manusia

Empowering Spiritual Power Pentingnya sebuah proses, Allah ajarkan melalui beberapa ayat yang telah disampaikan dalam risalah yang lalu. Sesungguhnya, jika kita cermati, ada satu hal yang sangat penting yang berkaitan dengan proses,…. ia adalah wa...

Selengkapnya

Invasi Pemikiran

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadany...

Selengkapnya

Wujud Ikhlas dalam Shalat

Empowering Spiritual Power Ikhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki,  kesuksesan yang  abadi, dan kesuksesan  dalam pandangan Allah.  Hal ini sebagaimana ayat : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan...

Selengkapnya

Untung Ada Saya

Masih ingatkah kita dengan “Jargon” ungkapan seorang pelawak terkenal kita yang di sela-sela pertunjukkannya sering mengucapkan kata-kata, “Untung Ada Saya?” Mudah-mudahan kata-kata yang sering dia ucapkan tersebut hanya sekadar memancing gelak tawa...

Selengkapnya

Melayani dengan hati

Pada 17 agustus tahun 1945, para pemimpin negara dengan berani mengumumkan proklamasi yang menjadikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka di hadapan seluruh bangsa di dunia. Hari itu merupakan saat yang sangat penting, melalui foto-foto ...

Selengkapnya

Tentang Tafsir

Tafsir Tafsir menurut bahasa adalah menjelaskan dan menerangkan. Terambil dari kata al-fasr yang bermakna menjelasakan dan membuka. Dalam kamus dikatakan bahwa makna al-fasru adalah menjelaskan dan membuka sesuatu yang tertutup. Ulama mengatakan...

Selengkapnya

Berlatih Ikhlash...

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat di di FB, “Apakah ada do'a untuk tidak berpikiran negatif kepada orang yang telah di bantu....dan agar hati tidak gusar.....?”. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan pa...

Selengkapnya

K r i s i s K e t e l a d a n

K r i s i s   K e t e l a d a n Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Disadari atau tidak, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita saat ini sedang dilanda “krisis keteladanan”, di mana dalam kehidupan keseharian kita masih sering melihat...

Selengkapnya

Kepanikan Zionis Israel

Kedunguan, kebebalan dan kekebalan Zionis-Israel terhadap kutukan masyarakat dunia atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina dan Libanon, rupanya kini bisa dibuat “paranoid” (ketakutan) oleh Randa Ghazi seorang gadis belia yang menulis novel berju...

Selengkapnya

Produktivitas dalam islam

Risalah Wanita (Eps 16) Zakat, termasuk dalam rukun islam yang juga merupakan dari wujud keimanan seseorang. Dalam konteks rukun islam, Zakat sangat berkaitan dengan syahadat, shalat dan puasa yang telah secara singkat telah disampaikan.. Dalam...

Selengkapnya

Kisah Siti Khadijah

Risalah Wanita (EPS 17) Khadijah binti khuwailid, adalah nama yang sudah tidak asing lagi…. Beliau di juluki Ath-thohirah, yang berarti bersih dan suci. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi se...

Selengkapnya

Tentang Do'a

Do'a adalah hal yang sangat sering kita dengar, secara makna, do'a yang berasal dari da'a memiliki makna, mengharapkan kehadiran sesuatu atau mengharapkan kebaikan. Sedangkan secara umum, do'a berarti memohon, mengharap, meminta kepada Allah. Dalam A...

Selengkapnya

Narsisme..

Risalah Wanita (EPS 20) “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka den...

Selengkapnya

Kisah Maryam

Risalah Wanita (Eps 15) Surat Maryam yang tertera dalam Al Quran, merupakan bukti bahwa kaum wanita bukanlah kaum yang lemah, kaum tidak dapat dijadikan panutan. Kisah Maryam yang sekaligus merupakan nama surat dalam Al Quran ini, tentunya mengand...

Selengkapnya

Hidup Adalah Ujian

Sekelompok Malaikat ditugaskan mengangkat Arsy, ternyata mereka tak mampu melakukannya, sampai Allah mengajarkan kalimat : ALLOHU AKBAR..!!! Dan langit pun terangkat oleh para Malaikat…!!! Maka serulah ALLOHU AKBAR, agar kita kuat menanggung beban ke...

Selengkapnya

Spiritual for Business #1

You Will get What You Give..! Para pengguna internet  pasti tahu google atau yahoo.. Google dan yahoo adalah dua diantara portal pencari terbesar saat ini yang banyak memberikan manfaat dan kemudahan pada para pengguna internet..Kemudahan yang mere...

Selengkapnya

Memandang Poligami

Pada zaman sebelum diturunkannya Al Qur’an, kaum wanita boleh dikatakan, hampir tidak memiliki kemuliaan, rujuklah pada sejarah kaum wanita terdahulu yang banyak ditulis dalam berbagai risalah. Salah satu penyebabnya, boleh jadi karena adanya pemikir...

Selengkapnya

Karakter Yahudi

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Berbicara tentang karakter Bani Israil (orang-orang Yahudi), kita ketahui dalam sejarah memang orang-orang Yahudi tergolong orang yang telah banyak diberikan limpahan karunia-Nya, di antaranya telah diberikan mak...

Selengkapnya

Politik, psikotik dan neurotic

  KURSI KANG ADENG   Pilih mana? Kursi dewan atau rumah sakit jiwa. Ketika quick count direalease,  maka terkuaklah dengan cepat perhitungan yang mendekati akurat dan jelas memberi gambaran kepada rakyat.  Partai mana  yang bertengger di urut...

Selengkapnya

Tentang Musibah

Mensikapi bencana yang terjadi di Indonesia, melalui sudut pandang Al Quran Kata musibah dalam Al Quran berarti, sesuatu yang menimpa manusia, baik berupa hal yang positif maupun yang negatif. Tetapi, dalam perkembangannya, kata musibah itu lebih be...

Selengkapnya

Pentingnya Proses

Empowering Spiritual Power Dalam ayat : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demi...

Selengkapnya

Tentang Puasa

Risalah Wanita (Eps 14) Jika saja ada…, Sebuah Mall terkenal yang menjual berbagai macam produk dari mulai rumah tangga, pakaian, alat kecantikan, makanan dan minuman, memberikan diskon khusus tanpa ketentuan dan syarat belaku, bagi setiap pemb...

Selengkapnya

Dia begitu Muda… Dia berani Berbicara…

Sebut saja namanya Wandy. Dia masih begitu muda, usianya mungkin belum menginjak 30 tahun. Tapi tulisan, membuat saya termenung sejenak. Saya tidak tahu apakah dia mengadopsi dari beberapa sumber… atau tulisan ini memang murni karena pemikirannya. Sa...

Selengkapnya

Kiat mencetak anak yang sholeh

Pada umumnya, setiap orang tua menginginkan anak yang sholeh, anak yang memiliki kepribadian yang baik. Secara singkat, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan anak yang sholeh :

Selengkapnya

More in: Inspirasi

-
+
9

Video Jalan Inspirasi..