"Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab". (QS: 40:40)

Komentar

Suka Situs Ini...?

www.radiorisalah.com

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini :331
mod_vvisit_counterKemarin :365
mod_vvisit_counterMinggu ini :2661
mod_vvisit_counterMinggu Lalu :3041
mod_vvisit_counterBulan ini :9940
mod_vvisit_counterBulan Lalu13921
mod_vvisit_counterSemua :471901

Sedang Online: 7
IP Anda : 107.22.156.205
,
Today: May 24, 2013

Artikel dibaca

Content View Hits : 769978




Informasi & Registrasi : SMS : 0813-21204471 - 022-76158110 - 081-802003336

User Rating: / 0
PoorBest 

Indahnya Ukhuwwah Islamiyyah

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA

 

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka turutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), maka kalian bercerai-berai dari jalan-Nya. Demikianlah yang diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al An’aam, 6:153).

 

Betapa sangat pahit jika kita rasakan, krisis “multidemensi” yang dihadapi dan dialami bangsa ini belumlah ada tanda-tanda yang menggembirakan untuk menuju ke arah perbaikan. Bahkan bila kita mau jujur, jangankan secara perlahan menuju ke arah perbaikan, tapi sebaliknya malah semakin hari semakin terasa bangsa ini makin terpuruk dalam jurang kenistaan.

Harga diri sebagai sebuah bangsa lambat-laun nyaris sirna. Bahkan, kini negara kita sudah termasuk kelompok negara “terkorup” di dunia. Ironisnya, targedi ini justru menimpa sebuah bangsa yang “mengklaim” dirinya menjadi sebuah bangsa dan negara yang “notabene” dihuni penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Pertanyaannya, kenapa tragedi ini harus terjadi? Jawabnya, ini bisa terjadi karena sangat tidak menutup kemungkinan ummat Islam yang jumlahnya mayoritas di negeri ini perannya sangat terasa “belum” optimal, khususnya dalam membina “Azas Persatuan dan Kesatuan”. Padahal, azas ini merupakan salah satu azas yang sangat ditekankan oleh Islam. Tujuan dari azas ini tiada lain agar ummat yang jumlahnya mayoritas ini tidak lumpuh karena hilangnya kekuatan dan kewibawaan dan tidak terbinanya persatuan dan kesatuan dalam Ukhuwwah Imaaniyyah dan Islamiyyah. Kondisi ini membuat “musuh-musuh Islam tertawa mengejek”.

Ibarat kita tinggal di sebuah rumah di mana tetangga sebelah rumah kita memelihara seekor anjing yang dibiarkan berkeliaran. Setiap pagi, anjing milik tetangga kita itu selalu lewat di depan rumah kita. Atas dasar rasa “jijik” dan “najis” dari liur binatang tersebut kita pun mengambil sebuah batu kerikil dan melemparnya. Lemparan batu kerikil tepat mengenai kepala anjing tersebut. Namun, terkena lemparan kerikil “hanya” membuat anjing tersebut “menggeleng-gelengkan kepalanya” sambil “melirik dan tersenyum sinis”.

Jika setiap pagi kita melakukan hal yang sama, setiap kali anjing tersebut lewat kita lempar lagi dengan sebutir batu kerikil. Dan, anjing tersebut ditakdirkan Allah berusia panjang 15 tahun misalnya, “anjing itu akan terus tersenyum sinis menertawakan kita”, sama sekali tidak membuat anjing itu menjadi takut karena batu kerikil itu sama sekali tidak mengakibatkan rasa takut sedikit pun, maka akan tetap begitu seterusnya. Namun, jika batu kerikil yang selama 15 tahun itu kita kumpulkan dalam sebuah karung, lalu kita lemparkan ke anjing tersebut, maka Insya Allah anjing tersebut tidak akan menggeleng-gelengkan kepala lagi karena sudah mati.

Demikianlah, diakui atau tidak, ternyata kita selama ini “belum” pernah mampu membina persatuan dan kesatuan “bak” batu kerikil dalam sebuah karung tadi. Sebaliknya, kita masih senang terpisah jauh antara batu kerikil yang satu dengan batu kerikil lainnya, hingga akhirnya walaupun jumlah kita mayoritas menjadi lumpuh dan tidak memiliki wibawa. Kita masih senang menjadi “batu kerikil” yang “terpisah-pisah” dalam beberapa kelompok, golongan atau partai. Setiap pemilu, ummat Islam terpecah dalam berbagai kelompok atau partai. Kondisi seperti ini sangat rentan terhadap timbulnya perselisihan karena menyangkut berbagai macam kepentingan. Bahkan, yang memprihatinkan tidak jarang antarkelompok atau partai pun saling menghujat. Ironisnya, kita yang mayoritas malah terkadang mengikuti keinginan kaum minoritas.

Bila kita mau cermati, sebenarnya perselisihan itu dapat menimbulkan kerusakan pada hubungan baik antarsesama yang pada gilirannya akan bisa merusak nama Islam dan ummatnya. Islam sendiri adalah satu-satunya agama yang mengajak ke dalam ikatan persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling tolong-menolong dan membantu serta mengecam perpecahan dan perselisihan. Karena perselisihan itu sendiri pada dasarnya akan bisa menyebabkan kegagalan dalam sebuah perjuangan yang pada gilirannya pula dapat mengakibatkan hilangnya kewibawaan dan rasa disegani baik oleh kawan atau lawan.

Padahal, azas persatuan dan kesatuan ini telah ditegaskan melalui seruan-Nya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal” (Al Hujuraat,49:13). Disadari atau tidak, di negeri kita ini saja telah Allah SWT ciptakan berbagai suku, warna kulit, berbagai macam budaya dan berlainan pula status sosialnya. Semua ini bukan untuk kita saling membangga-banggakan diri. Tetapi, kita diciptakan berbeda-beda tiada lain hanya untuk, “Lita’aaraafu”, sekadar memudahkan kita untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya.

Al Qur’an juga telah menegaskan bahwa kaum muslimin, kendati pun berbeda jenis, warna kulit, bahasa, dan berbeda pula tingkatan status sosialnya adalah tetap satu ummat, yaitu menjadi ummat yang adil dan pilihan yang dijadikan Allah SWT sebagai saksi atas perbuatan manusia (Al Baqarah, 2:143). Menjadi pula ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran serta beriman kepada Allah (Ali Imran, 3:110).

Pertanyaannya, akankah kita mau berupaya menjadi ummat yang terbaik yang salah satunya dengan mau kembali belajar tentang sejarah kehidupan ummat-ummat terdahulu baik yang mengalami kemajuan maupun kemunduran? Allah SWT lewat firman-Nya mengingatkan: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal” (Yusuf,12:111).

Diakui atau tidak, betapa tidak sedikit peran ummat Islam tempo dulu di negeri ini dalam ikut memperjuangkan satu tujuan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka sekaligus menjadi bangsa yang bermatabat dan memiliki harga diri. Sejarah mencatat, betapa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini bukanlah hadiah dari kaum penjajah dan bukan pula semata-mata anugerah dari Allah SWT yang sepi dari perjuangan dan pengorbanan. Bahkan lembaran sejarah itu sendiri tidak mampu menccatat lagi berapa banyak jiwa para syuhada dan pahlawan yang telah gugur. Berapa banyak darah yang telah ditumpahkan dan betapa tidak terkiranya jeritan, pekikkan dan rintihan penderitaan yang sempat menggema di bumi nusantara ini, karena di benak para pejuang kala itu hanya ada satu tekad, “Merdeka atau Mati”.

Kini, sudah selayaknyalah jika ummat Islam di negeri ini kembali menyamakan tujuan dan merapatkan barisan sebagaimana miniatur kesatuan dan persatuan ummat yang kita wujudkan melalui shalat berjamaah. Di mana kita sama-sama menuju “satu” titik tujuan yang sama yakni ridha Allah dengan barisan yang rapat dan lurus. Mampu dan maukah kita mewujudkan makna dan hakikat shalat berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Mampu dan maukah kita menentukan “satu” titik tujuan yang sama yakni semata-mata bertujuan untuk mencapai ridha Allah dalam memperjuangkan tegaknya syariat Allah dalam kehidupan?

Kita harus merasa malu dan prihatin, Muhammad Rasulullah Saw, mulai menyusun “Shaaf” (barisan) dari “satu orang menjadi banyak”. Sementara kita, mulai dari banyak tapi satu demi satu mengundurkan diri dari barisan dan dari komitmennya kepada Islam. Karena langsung atau tidak langsung, kita keluarkan dari barisan hanya karena berbeda faham, bukan dalam “Ushul ad Dien” (pokok-pokok dan prinsip dasar Agama). Lalu kita bagi-bagi ummat kedalam kotak-kotak “Hizbussiyaasiyyuun” (Partai Politik) atau “Hizbusy-syar’iyyuun” (Golongan Faham Syari’ah Furu’iyyah).

Kita harus segera berhenti dari lagu lama ini. Sehingga tidak perlu terulang lagi ironi, Muslim memusuhi Muslim, Muslim mencurigai Muslim, Muslim yang satu sibuk memukul Muslim lainnya, atau saling memukul satu sama lain. Sehingga setelah masing-masing babak-belur habis energi dan wibawa, akhirnya tidak berdaya di hadapan lawan yang sesungguhnya.

Mari kita sama-sama renungkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak aIndahnyada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al An’aam, 6:159).

Mari kita jadikan organisasi atau partai “hanya sebagai alat” untuk mencapai tujuan. Sebagaimana yang diajarkan Allah lewat firman-Nya: “Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai” (Ali Imran, 3:103). Hanya bila kita telah berupaya secara optimal dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT dalam kehidupan ini, barulah kita bisa berharap akan janji Allah SWT yang lewat firman-Nya: “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (Muhammad, 47:7).

Wallahu a’lam bish-shawab.


Lainnya..

Empowering 7 Training

Alhamdulillah pelatihan reguler pada tanggal 25/06/2011 telah selesai dilaksanakan... Kami mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah bersedia mengikuti Empowering Spiritual Power.. Semoga apa yang disampaikan dapat memberikan manfaat bagi ki...

Selengkapnya

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran

Kebenaran Yang Bisu Bukanlah Kebenaran Oleh : Abu Muas Tardjono Suatu saat, tatkala Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang s...

Selengkapnya

Menyikapi Musibah

Menyikapi Musibah Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan yang terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang ti...

Selengkapnya

Tentang Puasa

Risalah Wanita (Eps 14) Jika saja ada…, Sebuah Mall terkenal yang menjual berbagai macam produk dari mulai rumah tangga, pakaian, alat kecantikan, makanan dan minuman, memberikan diskon khusus tanpa ketentuan dan syarat belaku, bagi setiap pemb...

Selengkapnya

Untung Ada Saya

Masih ingatkah kita dengan “Jargon” ungkapan seorang pelawak terkenal kita yang di sela-sela pertunjukkannya sering mengucapkan kata-kata, “Untung Ada Saya?” Mudah-mudahan kata-kata yang sering dia ucapkan tersebut hanya sekadar memancing gelak tawa...

Selengkapnya

Kepanikan Zionis Israel

Kedunguan, kebebalan dan kekebalan Zionis-Israel terhadap kutukan masyarakat dunia atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina dan Libanon, rupanya kini bisa dibuat “paranoid” (ketakutan) oleh Randa Ghazi seorang gadis belia yang menulis novel berju...

Selengkapnya

Menyembunyikan Kebenaran

Menyembunyikan Kebenaran Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA “Innal ladziina yaktumuuna maa anzalallaahu minal kitaabi wa yasytaruuna bihii tsamanan qaliilan ulaa-ika maa ya’kuluuna fii buthuunihim illaan naara wa laa yukallimuhumullaahu yaumal qiy...

Selengkapnya

Bolehkah menikah beda agama...?

Jika kita perhatikan, 'hidup bersama' atau 'kumpul kebo' pada prakteknya 'hampir tidak ada bedanya' dengan pasangan suami-istri yang sudah menikah. Hubungan secara manusia dalam konteks 'hidup bersama tanpa sebuah pernikahan' tentunya didasari oleh '...

Selengkapnya

Tentang Surat

Risalah Wanita (Eps 2) Surat adalah salah satu bentuk komunikasi antar manusia yang lebih khusus untuk hubungan yang khusus dan memilik arti tersendiri bagi si penulis dan penerima. Seperti surat keputusan, surat berharga, surat permohonan, surat la...

Selengkapnya

Krisis Ekonomi..?

Banyak manusia yang menjadi ketakutan karena disebabkan krisis ekonomi...Krisis ekonomi tentunya akan berpengaruh dan berkaitan terhadap harta seseorang..Hal ini tentunya akan sangat memperngaruhi kehidupan seseorang..., Bagaimanakah Islam memandang ...

Selengkapnya

Memilah & Memilih Pemimpin

Memilah & Memilih Pemimpin Keterikatan dan keterkaitan seorang mu’min dalam hidup bermasyarakat dan bernegara khususnya dalam “memilah & memilih pemimpin”, layaklah kita hayati dan renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al Hakim, Nab...

Selengkapnya

Menjadi tua

Saya tertarik membaca satu artikel, dari seseorang yang menamakan dirinya Om Widy. Dia, berbicara mengenai ‘ketuaannya’…  Saya hanya tertarik, karena saya memang sedang ingin mengetahui… apa yang dirasakan seseorang, di usianya, yang telah menginjak ...

Selengkapnya

Tentang Ilmu

Risalah Wanita (Eps 8) Ilmu adalah informasi yang masuk dalam pikiran kita, lalu informasi tersebut dikirimkan ke hati kita. Keimanan sebagaimana yang telah di bahas, bersemayan dalam hati, dan salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi...

Selengkapnya

Kiat mencetak anak yang sholeh

Pada umumnya, setiap orang tua menginginkan anak yang sholeh, anak yang memiliki kepribadian yang baik. Secara singkat, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan anak yang sholeh :

Selengkapnya

Lelaki Pilihan Allah

Risalah Wanita (EPS 24) Banyak sekali ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan kepada kaum wanita,  agar mereka mendapatkan laki-laki yang  Allah pilihkan untuk menjadi suami mereka. Tentunya, lelaki pilihan Allah, adalah mereka...

Selengkapnya

Meraih berkah dalam kehidupan keluarga

Secara garis besar, setidaknya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan jika kita ingin menggapai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, hal itu adalah ;

Selengkapnya

Kisah Siti Khadijah

Risalah Wanita (EPS 17) Khadijah binti khuwailid, adalah nama yang sudah tidak asing lagi…. Beliau di juluki Ath-thohirah, yang berarti bersih dan suci. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi se...

Selengkapnya

Spiritual for Business #3

(Empowering Spiritual Power for Entreupreneur)Komitmen sebagai modal utama Kita semua tahu, Thomas Alva Edison merupakan salah satu ilmuwan paling terkenal sebagai penemu lampu pijar. Padahal hanya tiga tahun dia belajar melalaui pendidikan formal, ...

Selengkapnya

Syarat Mencapai Kesuksesan Hakiki

Empowering Spiritual Power Kesuksesan dalam pandangan manusia adalah keberhasilan dari sebuah upaya yang telah di tempuh…atau hasil yang sesuai dengan harapan yang di dapatkan dengan upaya dan pengorbanan. Dalam konteks kesuksesan atau keberhasilan ...

Selengkapnya

Valentine's Day=Virus Aqidah??

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam...

Selengkapnya

Wanita pilihan Allah

Risalah Wanita (EPS 25) Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq...

Selengkapnya

Wujud Ikhlas dalam Zakat

Ikhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki,  kesuksesan yang  abadi, dan kesuksesan  dalam pandangan Allah. Dalam risalah yang lalu (Wujud Ikhlas dalam Shalat) kita sudah sedikit membahas tentang shalat, yang merupakan wujud dari ke...

Selengkapnya

Mengingat Kehidupan Akhirat

Mengingat Kehidupan Akhirat Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA   “Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih” (Al Israa’, 17:10)   Untuk mengingat kehidupan akhirat, kini...

Selengkapnya

Tentang Musibah

Mensikapi bencana yang terjadi di Indonesia, melalui sudut pandang Al Quran Kata musibah dalam Al Quran berarti, sesuatu yang menimpa manusia, baik berupa hal yang positif maupun yang negatif. Tetapi, dalam perkembangannya, kata musibah itu lebih be...

Selengkapnya

More in: Inspirasi

-
+
9

Video Jalan Inspirasi..