Komentar
Suka Situs Ini...?
www.radiorisalah.com






![]() | Hari ini : | 411 |
![]() | Kemarin : | 456 |
![]() | Minggu ini : | 2223 |
![]() | Minggu Lalu : | 2338 |
![]() | Bulan ini : | 9900 |
![]() | Bulan Lalu | 16945 |
![]() | Semua : | 233799 |
IP Anda : 38.107.179.237
,
Today: Feb 22, 2012
Artikel dibaca
Pengunjung dari..
German
- Über den Glauben
- Ist die Religion eine exakte Wissenschaft wie Mathematik ...?
- Produktivität im Islam
- Das Geheimnis und das Rezept der Schönheit von Audrey Hepburn
- Ist es erlaubt in verschiedenen Religionen zuheiraten…?
- ber die Interpretierung (Tafsir)
- Ratschläge für Frauen von Rasulullah SAW
- Herz, Absicht (Niat )& Standfestigkeit (istiqomah)
- Die Frau, die eine Scheidung fordert...?
- Führer im Islam
Kepanikan Zionis Israel
Kedunguan, kebebalan dan kekebalan Zionis-Israel terhadap kutukan masyarakat dunia atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina dan Libanon, rupanya kini bisa dibuat “paranoid” (ketakutan) oleh Randa Ghazi seorang gadis belia yang menulis novel berjudul “Sognando Palestine – Impian Palestina”. Ghazi, seorang gadis belia keturunan Arab berusia lima belas tahun yang dibesarkan di tengah-tengah budaya Barat yang cerdas dan kreatif ternyata telah mampu menulis dengan bahasa asing selain Bahasa Arab.
Melalui novel ini, Ghazi bukan hanya mampu menyentuh, menggugah dan menggetarkan jiwa, melainkan juga mampu membangkitkan semangat “jihad” pemuda-pemuda Palestina untuk bangkit melawan kebiadaban Zionis-Israel yang telah meratakan rumah-rumah mereka dengan tanah, membunuh orang-orang yang mereka cinta dan kasihi, mereka berani melawannya walaupun hanya dengan lemparan-lemparan batu hingga titik darah yang terakhir.
Tragedi Muhammad al-Durrah, bocah berusia dua belas tahun yang tewas akibat tertembus timah panas serdadu Zionis-Israel yang disaksikan melalui tayangan televisi, menginspirasinya menulis sebuah novel yang dapat menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat khususnya kehidupan kawula mudanya di kancah negara yang sedang dijajah oleh Zionis-Israel. Muhammad al-Durrah, adalah anak kecil korban yang dibunuh dengan kejam. Saat tentara yang membunuh anak kecil ini berbicara di media massa, dia mengatakan bahwa dia sengaja membiarkan ayahnya hidup untuk membuatnya tersiksa
Melalui novel ini, digambarkannya ada sebuah kehidupan keluarga kecil yang terdiri dari beberapa pemuda yang senasib dan sepenanggungan berkumpul membentuk komunitas keluarga. Berkumpulnya beberapa pemuda ini merupakan sisa-sisa penduduk yang masih sempat pula mengadakan perlawanan dan berlari menyelamatkan diri dari pembantaian yang di lakukan Zionis-Israel di berbagai tempat dalam waktu yang berbeda.
Sederet nama, Ibrahim, Nidhal, Reham, Jihad, Rami, Muhammad, Ahmad dan Walid adalah sosok tokoh beberapa pemuda yang digambarkan oleh Ghazi dalam novel ini berhasil berkumpul membentuk sebuah keluarga yang harmonis. Sosok pemuda lajang bernama Ibrahim yang digambarkan Ghazi adalah sosok pemuda yang sejak usia lima tahun tidak pernah mengenyam belaian kasih-sayang ibundanya yang meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Praktis selama hidupnya ia hanya hidup bersama ayahnya, Fathi, yang hidupnya tak jauh dari urusan masjid. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Ibrahim, setiap kali ia mendengar suara ayahnya yang kuat dan keras dari corong mikrofon mengumandangkan azan untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan shalat. Ibrahim sangat bangga melihat ayahnya yang tidak pernah menampakkan semangat yang membara kecuali hanya satu hal di samping persoalan akidah, yaitu peperangan.
Kisah tragis yang digambarkan Ghazi atas diri Ibrahim adalah, suatu saat terjadilah penyerbuan oleh serdadu Zionis yang menyerbu masjid saat ayah Ibrahim memberikan taushiyah kepada para jamaah masjid tentang semangat berjihad. Dengan suara lantang, ayah Ibrahim memberikan semangat kepada para jamaah untuk mengadakan perlawanan. Melihat kondisi yang sudah sangat tidak terkendali ini serdadu Zionis tak mau mengambil risiko lebih berat lagi tanpa basa-basi menembakkan serangkaian tembakan yang beruntun ke arah massa. Satu persatu jatuh tersungkur bersimbah darah termasuk ayah Ibrahim gugur dalam perlawanan ini dengan kondisi tangannya memegang mushaf Al-Qur’an yang sudah terceceri darah. Tinggallah Ibrahim hidup seorang diri.
Sepeninggal ayahnya, Ibrahim pergi jauh dari kampung halamannya dan singgah dari desa ke desa lainnya. Suatu saat ketika Ibrahim usai melaksanakan shalat di sebuah masjid dan beristirahat sejenak, seorang pemuda bernama Nidhal menghampirinya. Perkenalan Ibrahim dengan Nidhal memberikan semangat baru bagi Ibrahim untuk hidup dan mengadakan perlawanan kepada kaum penjajah negerinya. Keduanya mengikat janji untuk berjuang sampai titik darah terakhir.
Dua tahun berjalan persahabatan keduanya semakin erat. Hidup Nidhal sendiri selama ini menjadi tumpuan hidup dua orang yang sangat ia cintainya, adik perem-puannya, Anggie dan ibundanya. Di samping itu pula, Nidhal sendiri menampung dua orang bersaudara yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, Jihad dan Reham. Kedua orangtua Jihad dan Reham meninggal diterjang berondongan timah panas oleh tentara Zionis saat Jihad dan Reham berada di sekolah. Dituliskan Ghazi, ketika pertama kali terdengar letusan senjata, anak-anak semua menjerit ketakutan. Para guru hilir mudik sambil berteriak agar mereka semua segera bersembunyi di lorong-lorong atau di bawah meja. Semuanya tiarap di lantai sambil menjerit dengan wajah yang cemas dan ketakutan. Tubuh Reham gemetar bukan karena suara letusan senjata yang membuatnya menggigil, tapi seketika itu ia ingat keselamatan adiknya, apakah adiknya masih berada di dalam kelasnya dalam keadaan aman sedang dia tidak berada di sampingnya ? Nasihat-nasihat ibunya tiba-tiba bermunculan dalam benaknya. Setiap hari sebelum melepaskannya pergi ke sekolah, ibunya selalu berpesan agar dia menjaga dan memperhatikan adiknya, agar dia selalu berada di sampingnya apa pun yang terjadi.
Digambarkan oleh Ghazi, pada saat itu tank-tank Israel masuk ke kampung mereka dengan menghujani tembakan yang membabibuta. Termasuk di antara korbannya adalah kedua orang tua Reham. Mereka memasuki rumah-rumah dan membakar sebagian saat penghuninya masih berada di dalam. Pada bagian lain mereka memperkosa para wanita, merampas harta dan menghancurkan apa saja. Mereka menyiksa penduduk yang dewasa dan membunuhnya. Sedangkan anak-anak, tulang-tulang tubuhnya mereka patahi tanpa membunuhi mereka sehingga orang-orang menderita berkepanjangan dengan keadaan anak-anak generasi mereka yang cacat dan menjadi beban masalah baru bagi kehidupan mereka.
Setahun berlalu hubungan Ibrahim, Nidhal, Reham dan Jihad semakin erat dan akrab. Di sinilah kecerdasan Ghazi seorang gadis belia melalui tulisannya mulai nampak. Dalam tulisannya, Ghazi tidak mengenyampingkan kondisi normal sosok seorang anak manusia yang menjalin cinta antara laki-laki dan wanita. Pernyataan cinta yang diungkapkan Nidhal terhadap Reham yang cantik dan Reham membalas kata yang sama ini merupakan bunga-bunga kebahagiaan di tengah-tengah serentetan pende-ritaan rakyat Palestina yang ditulis Ghazi pada halaman-halaman sebelumnya.
Setelah satu lembar disisipkan tentang pernyataan cinta Nidhal di antara lembar-lembar tulisan tentang tragedi pembantaian rakyat Palestina, Ghazi kembali menuliskan gambaran penyerbuan serdadu Zionis. Dituliskannya, suatu hari mereka mendengar suara ledakan berkali-kali dan melihat orang berlari tunggang langgang melihat tank-tank Israel berlalu lalang di jalan raya. Dalam hitungan detik, Ibrahim, Reham, Jihad, Nidhal, Anggie dan ibunya sudah berada di luar rumah dan berlarian bersama penduduk yang lain. Ibu Nidhal meninggal ditembak saat dia sudah tidak kuat lagi berlari. Melihat ibundanya mati ditembak, Anggie menangis sejadi-jadinya sambil memeluk ibunya dan Nidhal dengan penuh keberanian menerjang tentara yang menembak ibunya. Tak luput pula, akhirnya dua tembakan dari serdadu Zionis diletuskannya mengenai Nidhal dan adik kandungnya, Anggie. Melihat kejadian ini dengan serta merta Ibrahim mengangkat dan membawa lari Nidhal dan Anggie dibawa lari oleh Jihad untuk mencari perlindungan sementara hingga akhhirnya mendapat tumpangan kendaraan yang dikemudikan oleh Muhammad menuju ke rumah sakit. Jiwa Anggie tidak tertolong saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Sampailah Ibrahim, Reham dan Jihad membawa Nidhal dengan luka tembak ke rumah sakit. Di rumah sakit Nidhal dioperasi oleh dokter muda yang dibantu Rami.
Diceritakannya pula oleh Ghazi, bahwa seminggu kemudian keluarlah mereka dari rumah sakit. Muhammad, supir yang membawa mereka ke rumah sakit mem-persilakan mereka untuk tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan rumah sakit. Tinggallah mereka berlima, Ibrahim, Nidhal, Reham, Jihad dan Rami di rumah Muhammad. Di rumah inilah hidup mereka terasa harmonis, kerja sama terjalin dengan baik. Namun, suatu saat seisi rumah merasa kaget tatkala dalam keheningan malam, Nidhal berpamitan untuk pergi entah kemana. Keharuan terasa menyelimuti kepergian Nidhal.
Di sini kembali Ghazi dapat menggambarkan adanya liku-liku hidup yang di hadapi keluarga. Digambarkan, tak lama kepergian Nidhal, kehidupan rumah tangga mereka mengalami goncangan. Ibrahim sudah mulai sering pulang larut malam bahkan pada suatu malam dia tidak pulang yang membuat seisi rumah mengkhawatirkannya. Terjadilah cekcok antara Reham dan Ibrahim hingga akhirnya Reham dan adiknya, Jihad, memutuskan harus pergi dari rumah mereka yang tak lama kemudian Ibrahim pun pergi pula. Di tengah perjalanan, Ibrahim melihat barak-barak pengungsian yang kondisinya sangat mengenaskan. Di tengah-tengah barak pengungsi, Ibrahim melihat seorang pemuda yang bernama Ahmad yang sedang bingung menunggui saudara perempuannya, Ashjan yang sedang sakit yang sangat membutuhkan pertolongan.
Dengan serta merta pula Ibrahim membawa Ahmad dan saudara perem-puannya, Ashjan ke rumah sakit. Tapi, sayang jiwa Ashjan tak tertolong dan Ahmad pun akhirnya diajak Ibrahim untuk tinggal di rumah Muhammad. Tak lama kemudian muncullah Reham dan Jihad pulang kembali ke rumah yang disambut penuh keharuan. Bahkan Ghazi, melalui tulisannya dapat menggambarkan suasana keharuan yang lebih mendalam saat-saat kembalinya Nidhal di tengah-tengah kehidupan mereka setelah selama beberapa tahun berkelana seorang diri.
Suatu saat datanglah kebahagiaan kehidupan keluarga ini dengan resminya Reham dan Nidhal resmi menikah. Muhammad dengan sukarela menyerahkan kamarnya yang paling besar kepada sepasang pengantin yang sedang berbahagia. Muhammad sendiri memindahkan ranjangnya ke kamar Rami dan Ibrahim. Sedangkan Ahmad dan Jihad tidur di sebuah kamar berukuran kecil. Kehidupan pun berlanjut. Nidhal bekerja di agen dealer mobil, Ahmad di bagian mekanik mesin, dan Jihad kerja di rumah makan.
Tak lama kemudian bergabunglah anggota terakhir dalam keluarga mereka, Walid, berusia tiga belas tahun yang mereka temukan di jalan raya saat dia sedang menggelandang sambil tertawa tidak keruan. Dia menjadi gelandangan sejak usia tujuh tahun, hampir separo umurnya dia habiskan di jalan-jalan. Kehadiran Walid dalam keluarga ini mendapat perhatian khusus hingga menjadi pembahasan musyawarah keluarga untuk membahas rencana menyekolahkan Walid. Dalam musyawarah yang sedang berlangsung, Walid dengan lantang berani mengutarakan bahwa dirinya sampai kapan pun tidak akan sekolah. Setelah ditanya alasannya tidak mau sekolah, Walid menjawab, “Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku untuk mendengar guru yang mendongeng tidak keruan! Aku ingin membunuh tentara-tentara itu, melempar mereka dengan batu-batu, dan menjatuhkan mereka sebanyak mungkin. Aku ingin membunuh mereka semuanya, Yang diinginkan oleh ayahku seandainya dia masih hidup ! Anak-anak yang ada di jalan itu semuanya melempar batu”. Demikianlah kekerasan demi kekerasan yang dialami oleh Walid dan sebayanya membawa dampak psikologis terhadap perkembangannya.
Di bagian akhir tulisannya, Ghazi menyuguhkan sebuah fenomena yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Dituliskannya, pada suatu malam tepatnya pukul tiga pagi Nidhal membangunkan Ibrahim untuk bercerita sekaligus membagi kebahagiaan terhadap sahabatnya itu dengan mengutarakan bahwa istrinya, Reham, telah hamil dua bulan. Betapa bahagianya Ibrahim mendengar berita yang membahagiakan ini sambil Ibrahim mengatakan kepada Nidhal bahwa besok malam berita ini akan disampaikan kesemua anggota keluarga. Usai kesepakatan keduanya kembali ke kamar masing-masing.
Belum juga berita bahagia ini disampaikan dan belum pula tidur pulas, tiba-tiba pintu kamar Ibrahim diketuk-ketuk Nidhal untuk segera bangun dengan mengatakan bahwa tentra Israel sudah berada di sekitar rumahnya. Telah terjadi kericuhan akibat ulah Walid yang melempar batu tentara Israel. Terjadilah perang yang tidak seimbang, satu sisi pemuda Palestina menggunkan batu untuk melempar, disisi lain tentara Israel menggunakan senjata dan menembakkan secara membabi buta. Walid gugur pertama dalam peperangan ini. Ibrahim, Jihad, Rami, Muhammad, Ahmad dan Nidhal berhasil pula menjatuhkan beberapa tentara Israel dengan lemparan-lemparan batunya. Dibalas pula oleh tentara Israel dengan menghujani semangat anak muda dengan memuntahkan peluru secara membabi buta. Ahmad, Ibrahim, Nidhal dan Reham yang sedang hamil dua bulan pun tak luput terkena sasaran tembakan tentara Israel. Muhammad yang selamat harus menanggung derita stres berat yang akhirnya terpenjara di rumah sakit jiwa. Jihad pun selamat dan harus amputasi salah satu kakinya yang terkena peluru.
Sebuah pengakuan dari Randa Ghazi ketika diwawancarai oleh sebuah media kiranya perlu kita simak pula, di mana Ghazi mengatakan, “Saya menulis novel ini untuk memaparkan tentang potret peperangan antara Palestina dan Israel yang selama ini tidak terlihat atau terdengar oleh masyarakat Eropa dan memperlihatkan suara kepada orang-orang Eropa yang selama ini tidak mengetahui mengapa Palestina berjuang ?”
Novel ini layak sekali dibaca oleh khalayak karena apa yang dipaparkan Ghazi walaupun novel ini murni fiksi dari bentukan imajinasi, tapi tidak menutup kemungkinan dalam tulisannya sangat mungkin tidak jauh dari realita yang ada. Dan, tidak menutup kemungkinan jika para pemuda Palestina membaca novel ini akan bangkit semangat perlawanannya yang sekaligus akan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Zionis-Israel. Mudah-mudahan ada aghniya yang berlebih harta mau mencetak novel ini sebanyak-banyaknya dalam bahasa Palestin dan dibagikan gratis kepada para pemuda Palestina.
Wallahu a’lam bish-shawab
Lainnya..
Tentang TafsirTafsirTafsir menurut bahasa adalah menjelaskan dan menerangkan. Terambil dari kata al-fasr yang bermakna menjelasakan dan membuka. Dalam kamus dikatakan bahwa makna al-fasru adalah menjelaskan dan membuka sesuatu yang tertutup. Ulama ... Selengkapnya |
Bahaya Kemunkaran IlmuBahaya Kemunkaran Ilmu Oleh : Tardjono Abu Muas "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. ... Selengkapnya |
Bolehkah menikah beda agama...?Jika kita perhatikan, 'hidup bersama' atau 'kumpul kebo' pada prakteknya 'hampir tidak ada bedanya' dengan pasangan suami-istri yang sudah menikah. Hubungan secara manusia dalam konteks 'hidup bersama tanpa sebuah pernikahan' ... Selengkapnya |
Taubat dan cobaan ..Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat di forum majelis ta’lim Al Ashr di FB, tentang, “Mengapa jika kita hendak bertaubat, banyak sekali cobaan yang kita hadapi”.Marilah kita mulai ... Selengkapnya |
Melayani dengan hatiPada 17 agustus tahun 1945, para pemimpin negara dengan berani mengumumkan proklamasi yang menjadikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka di hadapan seluruh bangsa di dun... Selengkapnya |
Tentang CintaRisalah Wanita (EPS 22) Cinta yang bersemayan dalam hati, merupakan hal yang banyak mengandung misteri… Pembahasannya tidaklah pernah berakhir…sampai tidak ada lagi manusia yang memi... Selengkapnya |
Gerakan 7F..!Gerakan 7 F Bidik Islam, Bagian Pertama. Dalam sebuah hadits dijelaskan salah satu “tanda-tanda” segera tibanya Hari Kiamat adalah keluarnya binatang melata besar dari perut bumi. Pada bukunya ... Selengkapnya |
Tentang PernikahanRisalah Wanita (EPS 23) Dalam surat al a'roof ayat 16 di abadikan satu kejadian ; Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya... Selengkapnya |
Mengingat Kehidupan AkhiratMengingat Kehidupan Akhirat Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA “Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih” (Al Israa’, 17:10) Untuk mengingat kehidupan ... Selengkapnya |
Ilmu dan ImanRisalah Wanita (EPS 7)Tentunya, kita pernah mendengar, bagaimana perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak wanita..Salah satu perjuangan yang Beliau anggap penting adalah mendirikan sekolah bagi kaum wanita.Karena pada waktu itu, ... Selengkapnya |
Ummat Rasulullah SAWSudahkah kita termasuk ummat Rasulullah Saw..?Dalam sebuah riwayat, ketika seorang hamba masuk ke dalam kuburnya lalu ia menjawab pertanyaan dengan benar, maka ia akan dilapangkan kuburnya dan dihindari dari adzab ... Selengkapnya |
Memandang PoligamiPada zaman sebelum diturunkannya Al Qur’an, kaum wanita boleh dikatakan, hampir tidak memiliki kemuliaan, rujuklah pada sejarah kaum wanita terdahulu yang banyak ditulis dalam berbagai risalah. Salah satu penyebabnya, boleh ... Selengkapnya |
Kisah MaryamRisalah Wanita (Eps 15) Surat Maryam yang tertera dalam Al Quran, merupakan bukti bahwa kaum wanita bukanlah kaum yang lemah, kaum tidak dapat dijadikan panutan. Kisah Maryam yang sekaligus ... Selengkapnya |
Yes, I am… wanna to be happy, always…!“Kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan.” Perilaku kita akan memperlihatkan, bahwa kita bahagia. Jika dalam pandangan kita tidak ada bedanya, hidup dan mati, penjara dan i... Selengkapnya |
Wujud Ikhlas dalam ShalatEmpowering Spiritual Power Ikhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki, kesuksesan yang abadi, dan kesuksesan dalam pandangan Allah. Hal ini sebagaimana ayat : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ... Selengkapnya |
Wujud Ikhlas dalam ZakatIkhlas merupakan kata kunci untuk mencapai kesuksesan hakiki, kesuksesan yang abadi, dan kesuksesan dalam pandangan Allah. Dalam risalah yang lalu (Wujud Ikhlas dalam Shalat) kita sudah sedikit membahas tentang shalat, ... Selengkapnya |
Dia begitu Muda… Dia berani Berbicara…Sebut saja namanya Wandy. Dia masih begitu muda, usianya mungkin belum menginjak 30 tahun. Tapi tulisan, membuat saya termenung sejenak. Saya tidak tahu apakah dia mengadopsi dari beberapa sumber… atau ... Selengkapnya |
K r i s i s K e t e l a d a nK r i s i s K e t e l a d a n Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Disadari atau tidak, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara ... Selengkapnya |
Tentang AmalRisalah Wanita (Eps 9)Dalam ilustrasi lilin pada episode yang lalu, sebagai orang yang percaya bahwa api yang menyala pada lilin itu panas, maka dirinya tidak akan pernah membiarkan tangannya berada ... Selengkapnya |
Spiritual for Business #1You Will get What You Give..! Para pengguna internet pasti tahu google atau yahoo.. Google dan yahoo adalah dua diantara portal pencari terbesar saat ini yang banyak memberikan manfaat dan ... Selengkapnya |
Wanita dlm pandangan duniaRisalah Wanita (Eps 5) “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri ... Selengkapnya |
KesuksesanEmpowering Spiritual Power (1) Kita sering mendengar kata sukses. Tentunya kita semua ingin menjadi orang yang sukses. Dalam pandangan manusia, mungkin kesuksesan itu adalah, menjadi kaya, memiliki keluarga yang terlihat harmonis, mendapatkan ... Selengkapnya |
Invasi Pemikiran(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya" ... Selengkapnya |
Al Quran dan WanitaRisalah Wanita (Eps 1) :Ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat dahulu yang sangat erat kaitannya dengan diturunkannya Nabi Adam Dan Siti Hawa untuk menjadi khalifah di bumi. Sebagaimana yang ... Selengkapnya |
|
More in: Inspirasi
|
||
- + 9 |
||
Video dari kami
| Timbangan Lihat selengkapnya |
Amal Manusia Lihat selengkapnya |
Ucapan dan tindakan Lihat selengkapnya |
| Perjalanan Manusia Lihat selengkapnya |
Kemah di padang pasir |
Raja dan Ulama Lihat selengkapnya |









